Makalah Kota Kediri - Gani Nur Pramudyo
News Update
Loading...

Jumat, 21 Desember 2012

Makalah Kota Kediri

BAB I
PENDAHULUAN
1.   LATAR BELAKANG
Kota Kediri adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota Kediri dengan luas wilayah 63,40 Km2 terbelah sungai Brantas yang membujur dari Selatan ke Utara sepanjang 7 Km.
Kota kediri merupakan satu-satunya kota di Jawa Timuryang mempunyai 2 gunungyaitu : Gunung Klotok dan Gunung Maskumambang.
Kediri identik dengan kota rokok kretek. Di kota inilah, pabrik rokok kretek PT Gudang Garam berdiri dan berkembang. Dari latar belakang di atas kami akan membahas mengenai Sejarah Kota Kediri, Sumber Daya  Alam yang ada di Kota Kediri, Budaya yang ada di Kota Kediri,Suber daya alam yang adad di Kota Kediri, Permasalahan yang ada di Kota kediri, Solusi yang di temukan dalam  permasalahan yang ada di Kota Kediri.
2.   RUMUSAN MASALAH
Dalam hal ini, kami mengamati faktor – faktor kependudukan yaitu:
1.Sejarah Kota Kediri   
2. Sumber Daya  Alam yang ada di Kota Kediri
3.Budaya yang ada di Kota Kediri
4.Suber daya alam yang adad di Kota Kediri
5.Permasalahan yang ada di Kota kediri
6. Solusi yang di temukan dalam permasalahan yang ada di Kota Kediri        
3.   TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mulok Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup ( PKLH).
4.   MANFAAT
Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu untuk menjelaskan tentang masalah – masalah Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup  ( PKLH ).
BAB II
ISI
1.      Sejarah Kota Kediri
Ø      Kediri Jaman Kerajaan (KEBESARAN MASA LALU)
Sudah menjadi pengetahuan umum, Kediri merupakan daerah yang memiliki sejarah masa lalu yang gemilang . Bahkan Kediri di masa lalu adalah daerah penting dalam konstelasi nusantara karena menjadi salah satu pusat di antara kerajaan-kerajaan nusantara masa itu.
Kediri juga menjadi salah satu daerah yang menjadi saksi bagi kebangkitan dan kehancuran kerajaan-kerajaan di nusantara yang memang silih berganti timbul tenggelam mewarnai lembaran sejarah kehidupan banga besar nusantara ini. Khusus bagi Jawa Timur, Kediri di masa-masa silam merupakan daerah yang bisa dikatakan cikal bakal lahirnya kerajaan-kerajaan besar sekaligus menjadi payung bagi daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya.
Pusat kerajaan baru di Jawa Timur muncul diantara dua masa berlangsungnya pemerintahan kerajaan di Jawa Tengah. Hal ini kita ketahui dari sebuah prasasti bertahun 729 saka (840 M) yaitu “PRASASTI HARINJING” di Desa Sukabumi, Kec. Kepung Kab. Kediri. Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan huruf kawi (Jawa Kuno).
Pengaruh Kerajaan Sriwijaya di belahan barat dan Mataram disebelah timur pada tahun 928 selagi empu sendok berkuasa di tanah air kita membuat perkembangan kerajaan-kerajaan kecil diseluruh jawa, termasuk Jawa Timur berkembang pesat. Mpu Sendok sebagai seorang bangsawan yang berasal dari kerajaan Mataram mendirikan kerajaan baru di Jawa Timur, dengan gelar RAKAI HINO MPU SENDOK SRI ICANA WIKRAMADHARMA TUNGGADEWA (929-947). Ibukota negara icana tidak jelas, tetapi kira2 pusat pemerintahan tersebut terletak di loceret Nganjtini ditandai dengan ditemukannya Candi lor yang menunjukkan tahun 929-1222M.
Setelah Mpu Sendok meninggal tahun 947 M, kepemimpinan pemerintahan mataram diganti oleh Sri Isyana Tunggawijaya, yang kemudian mempersunting putri Lokapala. Pernikahan tersebut memberikan putra yan kemudian menggantikan kedudukan Tunggawijaya yaitu Sri Makutawangsa Whardana. Selanjutnya pada tahun 990-1007 kerajaan mataram dikendalikan oleh Sri Dharmawangsa mati terbunuh sedangkan Airlangga dapat meloloskan diri dari peristiwa itu dengan diiringi Narottama, kemudian selama 4 tahun hidup di hutan dekat Wonogiri.
Ø      Pemerintahan Airlangga
Pada tahun 1019 atas pemerintahan beberapa Adipati dan kaum Brahmana yang masih setia, Airlangga diangkat untuk menduduki tahta kembali. Ia bertahta dan bergelar SRI MAHARAJA RAKELAHU CRILO KESWARA DHARMAWANGSA AIRLANGGA ANANTA WIKRAWAI-TUNGGADEWA. Pada masa pemerintahannya, airlangga berusaha menyatukan daerah-daerah kerajaan dharmawangsa yang telah terpecah belah akibat pengeruh Sriwijaya dengan kebijakan seperti :
  • Memindahkan ibukota kerajaan dari Wuwutan Mas ke Kahuripan kembali.
  • Mengadakan perbaikan sistem pengadilan dengan menghapus hukuman siksa diganti dengan hukuman denda.
  • Memajukan pertanian dengan mendirikan pematang-pematang besar di desa Wringin Sapta pada Sungai Brantas, sehingga desa dan sawah-sawah terhindar dari banjir, Bandar Ujung Gakuh dekat Surabaya menjadi makmur.
  • Memperhatikan dan memajukan perdagangan baik didalam maupun diluar negeri ke Champa, India Utara dan India Selatan.
  • Memerintahkan menyalin buku Mahabarata kedalam bahasa Jawa Kuno sehingga rakyat dapat membaca dan terpengaruh oleh peradaban hindu. Mpu Kanwa menyalin buku Arjuna Wiwaha sebagai lambang perkawinan Airlangga, dan Gatot Kaca Sraya.
  • Mendirikan pertapaan yang indah di puncangan, serta memperbaiki tempat-tempat suci
  • Sesuai dengan kehidupan orang Hindu Airlingga ingin memenuhi kewajiban yaitu menjadi pertapa, dan sebelum mengundurkan diri pada tahun 1041 ia membagi kerajaan menjadi dua bagian untuk kedua putranya adapun pembagian kerajaan sebagai berikut :
  • Bagian Timur : Kerajaan Jenggala dengan ibukota Kahuripan meliputi daerah Surabaya, Malang dan Besuki.
  • Bagian Barat : Kerajaan Panjalu atau Kadiri meliputi daerah Kediri, Madiun dengan ibukota Dahapura.

Airlangga menjadi pertapa terkenal dengan nama JATIWINDRA atau MAHARESI GENTAYU hingga akhir hidupnya tahun 1049 dan abu jenazahnya dimakamkan di lereng Gunung Penanggungan.
Ø      Kerajaan Kadiri
Ketidakcakapan raja-raja yang memerintah Kerajaan Jenggala, memebuat Jenggala tidak terdengar lagi untuk waktu yang tidak beberapa lama. Kemudian kebesaran nama kerajaan di wilayah timur ini digantikan dengan munculnya kerajaan Panjalu yang lebih dikenal dengan nama kerajaan DHAHA. Letak ibukota kerajaan ini diperkirakan terletak di kota yang terkenal dengan nama Kediri sekarang ini.  
Sekitar paruh waktu abad ke-11, mulailah sejarah kerajaan Kadiri yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama SRI JAYAWARSA sebagai raja pertama di kerajaan tersebut. Periode kepemerintahan kerajaan Sri Jayawarsa diperkirakan pada tahun 1104 sampai dengan 1115 M . setelah Sri Jayawarsa manglkat dari kepemimpinan-nya, pemerintah Kadiri dipercayakan kepada putranya yang bernama KAMISWARA. Masa pemerintahan Kamiswara diperkirakan terjadi antara tahun 1115 sampai dengan 1130 M. Untuk mengkhairi pertengkaran antara Kadiri dengan Jenggala, maka Kamis wra mengawini putri Jenggala yang bernama SRI KIRANA. Hal ini diyakini sebagai perkawinanpolitik yang diterapkan oleh kedua belah pihak. Pada jaman kepemimpinan Kamiswara tersebut, banyak bermunculan pujangga-pujangga terkenal,salah satu pujangga yang populer pada saat itu Mpu Dharmaja yang mengarang Kitab Semara Dahana, dan Mpu Tanakung yang mengarang Kitab Lubdaka dan Wertansantya.
Sepeninggalan Kamiswara, kerajaan Kadiri sipimpin oleh SRI JAYABAYA yang memerintah pada tahun 1135-1157 M. Sri Jayabaya diperkirakan pada tahun 1104 sampai dengan 1115 M. Setelah Sri Jayawarsa mangkat dari kepemimpinan-nya, pemerintah Kadiri dipercayakan kepada putranya yang bernama KAMISWARA. Masa pemerintahan Kamiswara diperkirakan terjadi antara tahun 1115 sampai dengan 1130 M. Untuk mengkhiri pertentangan antara Kadiri dengan Jenggala, maka Kamiswara mengawini Putri Jenggala yang bernama SRI KIRANA. Hal ini diyakini sebagai perkawinan politik yang diterapkan oleh kedua belah pihak. Pada jaman kepemimpinan Kamiswara tersebut, banyak bermunculan pujangga-pujangga terkenal, salah satu pujangga yang sangat popular pada waktu itu Mpu Dharmaja yang mengarang Kitab Semara DAHANA, dan Mpu Tanakung yang mengarang Kitab Lubdaka dan Wertansantya.
Sepeninggal Kamiswara, kerajaan Kadiri dipimpin oleh SRI JAYABAYA yang memerintah pada tahun 1135-1157 M. Sri Jayabaya terkenal sebagai pujangga dan sering dihubungkan dengan buku-buku karangan beliau yang dinamakan persis seperti nama beliau yaitu Jayabaya. Pada jaman Jayabaya tersebut hudup dua pujangga terkenal yaitu Mpu Panuluh yang kemudian menyelesaikan buku Mahabarata. Setelah Jayabaya, kerajaan Dhaha di perintah oleh, antara lain :
Sawosworo pada tahun 1159-1161
Aryoso pada tahun 1171-1174
Gandra pada tahun 1181
Kamesworo II pada tahun 1182-1185
Ø      Kediri Jaman Penjajahan Jepang
setelah Belanda menyerah kepada jepang pada tanggal 10 maret 1942, maka kota Kediri pun mengalami perubahan pemerintahan. Karena wilayah kerja Gemeente Kediri yang begitu kecil dan tugasnya sangat terbatas, maka oleh pemerintah jepang daerahnya diperluas menjadi kota. Daerah Kediri Shi atau Kediri Kota dikepalai oleh Shico.
Kediri shi terdiri dari 3 son (kecamatan)dan dikepalai oleh Shonco Son (Camat) yang terdiri dari beberapa Ku(desa), dimana tiap Ku dikepalai oleh seorang Kucho(kepala desa) Pemerintahan kediri Shi dipimpin oleh seorang Shico (walikotamadya), dimana kekeuasaanya tidak saja menjalankan pemerintah otonomi tetapi juga menjalankan Algemeen Bestuur tidak didampingi oleh DPRD, karena wewenang penuh berada ditangan Kediri Sicho.
Ø      Kediri Jaman Penjajahan Hindia Belanda
Kedatangan Bangsa Belanda di Indonesia
Belanda yang berdagang di Lisabon untuk mengambil barang dagangan yang didatangkan dari Asia Selatan oleh Bangsa Portugis pada tahun 1580 menghadapi kondisi yang serba sulit karena persaingan. Oleh karena kesulitan tersebut, maka Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman datang di Indonesia pada tahun 1596, tepatnya mendarat di pantai Banten.
Pada saat ini, Belanda mendapat rintangan dari orang-orang Portugis sehingga mereka berusaha untuk mempersatukan pedagang-pedagang Belanda dalam satu badan perdagangan yaitu VOC ( Verengde Ost Indischet Compagniw ) pada tahun 1602. sekita tahun 1799 VOC mengalami kerugian besar akibat korupsi pejabat-pejabatnya, sehingga dibubarkan. Segala hak dan kewajibannya diambil oleh Pemerintah Republic Mataaf ( Bataafsche Republic ) pada tahun 1799 – 1807.
Pada tahun 1807 Republic Bataafche dihapuskan oleh Kaisar Napoleon Bonaparte dan diganti bentuknya menjadi kerajaan Belanda ( Konninkrijk Holand ). Dengan adanya perubahan ketatanegaraan ini menyebabkan Indonesia bagian dari kerajaan Belanda.
Kota Kediri di Awal Tahun 1906
Berdasarkan Staatblad ( Undang-Undang Kenegaraan Belanda ) No. 148 tertanggal 1 Maret 1906, mulai berlaku tanggal 1 April 1906, di Kediri dibentuk Gemeente Kediri sebagai tempat kedudukan Resident Kediri. Sifat Pemerintahan di Kediri tersebut oleh Belanda diberikan kewenangan otonomi terbatas dan sudah mempunyai Gemeente Raad sebanyak 13 orang, yang terdiri dari 8 orang golongan Eropa dan yang disamakan, 4 orang Pribumi ( inlander ) dan 1 orang Bangsa Timur Asing. Berdasarkan Staatsblad No. 173 tertanggal 13 Maret 1906, bangsa Belanda menetapkan anggaran keuangan sebesar f. 15.240 dalam satu tahun. Tanggal 1 Nopember 1928 berdasarkan Staatsblad no. 498 status Kediri menjadi Zelfstandig Gemeenteschap mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1928, yaitu daerah yang memiliki Otonom Penuli.
Meskipun telah dibentuk “ Dependen Gemeente Kediri ” Pemerintah dalam negeri atau de Algemene bestuursroering tidak dipegang oleh Gemeente Kediri tetapi dipegang oleh Het Inlandeche Bestuur yang dipimpin oleh Regent Ven Kediri 9 Bupati), wewenang Gemeente Bestuur hanya meliputi pengurus got-got dalam kota, pungutan karcis pasar, pemeliharaan jalan kota dan pungutan peneng sepeda.
Pemerintahan umum dipegang oleh Assisten Wedono dan Bupati, jadi tidak ada hubungan hirarkis di dalam pemerintahan umum dengan Bestuur, yang terjadi hanya merupakan hubungan kerja dan kepamongprajaan yang saat itu dipegang oleh Bupati Kediri.
Ø      Kediri Jaman Kemerdekaan
Jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 agustus 1945 dan 9 agustus 1945, membuat jepang bertekuk lutut di hadapan tentara sekutu pada tanggal 14 agustus 1945, sehingga terjadi Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945. tidak lama setelah proklamasi tersebut di Kediri muncul Syodancho Mayor Bismo (Mayor Bismo)bersama-sama tokoh Gerakan Pemuda yang dengan penuh semangat, penuh kesadaran disertai keberanian bertekad mengambil alih kekuasaan pemerintah dari tangan Jepang.
Mayor Bismo mengawali masuk dan membimbing Fuku Cho Kan Alm. Abdul rochim pratlkrama dan ditengah-tengah gelora massa mengumumkan kesediaannya berdiri di belakang Pemerintahan RI dan mengankat diri sebagai Residen RI Dearah Kediri yang pertama. Massa rakyat dengan pimpinan Mayor Bismo menyerang Markas Ken PE Tai(jl.brawijaya 27), yang dihkiri melalui perundingan dengan hasil jepang menurunkan benderanya dan diganti dengan bendera Merah Putih bangsa Indonesia.
Demikian sekilas perebutan kekuasaan dari bangsa Jepang di Kediri. Habislah sejarah pemerintahan Jepang di Kediri, maka pemerintah beralih kepada RI. Mula-mula Walikota didampingi oleh Komite Nasional Kotamadya, kemudian daerah berkembang sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Di dalamnya terdapat perubahan penyebutan Kotamadya menjadi Kota, maka penyebutan Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Kediri berubah menjadi Pemerintah Kota Kediri.
hingga sekarang Kota Kediri telah mengalami 9 (sembilan) kali pergantian kepemimpinan di bawah Pemerintah Republik Indonesia. Dari pemimpin yang pertama hingga periode kepemimpinan Drs. H. Maschut (1999-Sekarang), Kota Kediri mengalami berbagai banyak hal kemajuan dalam pembangunan, baik pembangunan yang bersifat fisik maupun pembangunan yang non fisik. Keindahan kota Kediri semakin terlihat setelah kota Kediri mencanangkan slogan Kediri BERSEMI. Berbagai prestasi di raih dan diperoleh, tidak terkecuali dalam bidang olah raga yang mulai bangkit dengan melajunya PERSIK ke divisi I lIga Indonesia. Sehingga tidak terlalu muluk apabila Kota Kediri memang mewarisi kebesaran Kerajaan Kediri.
Sumber Daya  Alam yang ada di Kota Kediri
Sumber daya alam adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih sejahtera yang ada di sekitar alam lingkungan hidup kita. Sumber daya alam bisa terdapat di mana saja seperti di dalam tanah, air, permukaan tanah, udara, dan lain sebagainya. Contoh dasar sumber daya alam seperti barang tambang, sinar matahari, tumbuhan, hewan dan banyak lagi lainnya.
Sumber daya alam berdasarkan jenis :
- sumber daya alam hayati / biotik
adalah sumber daya alam yang berasal dari makhluk hidup.
contoh : tumbuhan, hewan, mikro organisme, dan lain-lain
- sumber daya alam non hayati / abiotik
adalah sumber daya alam yang berasal dari benda mati.
contoh : bahan tambang, air, udara, batuan, dan lain-lain
Sumber daya alam berdasarkan sifat pembaharuan :
- sumber daya alam yang dapat diperbaharui / renewable
yaitu sumber daya alam yang dapat digunakan berulang-ulang kali dan dapat dilestarikan.
contoh : air, tumbuh-tumbuhan, hewan, hasil hutan, dan lain-lain
- sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui / non renewable
ialah sumber daya alam yang tidak dapat di daur ulang atau bersifat hanya dapat digunakan sekali saja atau tidak dapat dilestarikan serta dapat punah.
contoh : minyak bumi, batubara, timah, gas alam.
- Sumber daya alam yang tidak terbatas jumlahnya / unlimited
contoh : sinar matahari, arus air laut, udara, dan lain lain.
Sumber daya alam berdasarkan kegunaan atau penggunaannya
- sumber daya alam penghasil bahan baku
adalah sumber daya alam yang dapat digunakan untuk menghasilkan benda atau barang lain sehingga nilai gunanya akan menjadi lebih tinggi.
contoh : hasil hutan, barang tambang, hasil pertanian, dan lain-lain
- sumber daya alam penghasil energi
adalah sumber daya alam yang dapat menghasilkan atau memproduksi energi demi kepentingan umat manusia di muka bumi.
misalnya : ombak, panas bumi, arus air sungai, sinar matahari, minyak bumi, gas bumi, dan lain sebagainya.
2.      Budaya yang ada di Kota Kediri
Wisata Budaya Kesenian Jemblung
Bila didengarkan dengan seksama musik jemblung cukup unik bahkan harmoni dari alat-alat musiknya dapat membangkitkan semangat bagi pendengarnya. Makanya tak salah jika jemblung dipilih oleh Sunan Bonang ketika pertama kali menyebarkan agama Islam di Kota Kediri. Menurut penuturan salah satu dalang jemblung masih tersisa di Kota Kediri, Mbah Mansyur Musthofa warga Kelurahan Tamanan, saat itu Sunan Bonang mulai menyebarkan Islam di daerah Kediri. Untuk menyebarkan ajaran Islam Sunan Bonang berjalan menyusuri Kali Brantas dengan diiringi oleh beberapa orang santri. Suatu hari Sunan Bonang sampai di suatu tempat yang diberi nama Tanjung Tani. Setelah berkeliling kampung dan mempelajari lingkungan sekitarnya ternyata warga di kampung itu masih banyak yang bodoh dan masih menyembah berhala. Pada awal memberikan ajaran Islam Sunan Bonang cara yang saklek dan tegas. Tapi ternyata dengan cara itu tak juga mampu ditangkap oleh warga kampung. Sangking jengkelnya Sunan Bonang sampai menyebut mereka dengan gemblung yang artinya bodoh. Akhirnya dipilihlah cara lain yaitu dengan menggunakan bunyi-bunyian.
Uniknya dengan alat musik yang berbunyi “blang blung-blang bung” itu akhirnya mampu memukau masyarakat dan menariknya untuk memeluk agama Islam. Alat-alat yang digunakan untuk memainkan jemblung kala itu terdiri dari Terbang, Jedor, Gendang, Kethuk, Thithil dan Penerus. Dengan cara itulah misi Sunan Bonang untuk menyebarkan agama Islam dapat tercapai, walaupun bunyi-bunyian “Blang Bung-Blang Bung” itu sebenarnya sindiran terhadap kegemblungan mereka, tapi mereka tidak sadar. Dengan bunyi-bunyian itu Sunan Bonang memasukkan sholawat. Karena suaranya yang blang bung-blang bung itulah akhirnya kesenian itu dinamai dengan jemblung. Tapi sejatinya Sunan Bonang memilih kata jemblung berasal dari gemblung yang sekaligus untuk menggambarkan kebodohan mereka. Bahkan Kyai Juwaini Pengasuh Pondok Pesantren Ngasaluddin Krembangan Kepung Kabupaten Kediri mengatakan, belajar Jemblung berarti ‘belajar mencari kebodohan‘.
Pada mulanya, Jemblung dimanfaatkan hanya sebagai alat untuk mencari simpatik masyarakat agar mengetahui ajaran Islam. Namun dalam perkembangannya Jemblung juga berfungsi sebagai media komunikasi budaya, memahami dan menjalankan ajaran ke-Islaman serta tata kehidupan yang lainnya. Dalam setiap pertunjukan Jemblung, lakon yang diceritakan oleh dalang adalah kisah-kisah tentang sejarah kebudayaa Islam, Marmoyo-Marmadi, sejarah tentang kerajaan-kerajaan di tanah Jawa khususnya Kediri, dan masih banyak lagi tema lain yang diangkat menjadi bahan cerita.
Sesuai dengan struktur dramatik, setelah jejer babak pertama, dalang akan bercerita tentang lakon, isi, klimaks, anti klimaks, penutup dan doa. Dan benar bila dicermati, sesungguhnya seni Jemblung sarat dengan nilai-nilai moral yang sangat tinggi. Tak hanya dijadikan tontonan semata, tapi sesungguhnya seni jemblung berisi tuntunan untuk hidup.
“Yaa Nur ….ngendikane…..oooo…..ayo…..ayo….shollu robbunaa…..sholatulloh salamuloh ‘ala thoha Rasulillah, …..alon-alon ceritane (yaa Rasululloh) Pangerane Yaa Alloh……Amin-amin”(21x).
Wisata Budaya Sendratari Ande-ande lumut
Cerita Ande-ande lumut sebenarnya merupakan salah satu legenda yang sudah tidak asing lagi dalam masyarakat Jawa. Cerita ini mengisahkan tentang Dyah Ayu Sekartaji yang berpenampilan kurang baik atau kotor bak pengemis dan tidak memiliki sanak saudara
Sedangkan Mbok Rondo Sumiasih adalah seorang janda yang sudah memiliki empat orang putri cantik yaitu Kleting Abang, Kleting Biru, Kleting Ijo, dan Kleting Langking. Selanjutnya Mbok Rondo Sumiasih mengangkat Dyah Ayu Sekartaji yang sebenarnya tak lain adalah seorang putri menjadi anak angkatnya dengan nama Kleting Kuning.   
Selama menjadi anak angkat Mbok Rondo Sumiasih Kleting Kuning diperlakukan kasar oleh keempat putri Mbok Rondo Sumiasih, tapi si Kleting Kuning tetap sabar dan selalu menjalankan semua perintah yang diterimanya dengan dibantu oleh sekor burung Bangau Tongtong.Sementara itu di lain daerah ada Mbok Rondo Dadapan yang mempunyai anak angkat lelaki yang sangat terkenal karena ketampanannya dan luhur budinya yang bernama Ande-Ande Lumut. Demi mendengar ketampanan Ande-ande Lumut keempat putri Mbok Rondo Sumiasih segera bersolek untuk ngunggah-ngunggahi atau melamar Ande-Ande Lumut. Sedang Kleting Kuning diperbolehkan ikut kakak-kakaknya, tapi tubuhnya diolesi dengan bau anyir dan dirias bak orang tidak waras.
Tapi betapapun jelek dan anyir bau Kleting Kuning, toh Ande-Ande Lumut tetap memilihnya menjadi istri karena Ande-Ande Lumut tahu bahwa keempat putri Mbok Rondo Sumiasih yang berpenampilan cantik itu telah dinodai oleh Si Yuyu Kangkang ketika menyeberang sungai menuju ke rumah Mbok Rondo Dadapan.
Itulah tadi cerita Ande-Ande Lumut dan Kleting Kuning yang sudah mengakar dalam adat masyarakat Kota Kediri. Bahkan konon, cerita tentang ngunggah-ngunggahi atau perempuan melamar laki-laki terlebih dulu ini masih menjadi kebiasan di Kota Kediri sampai saat ini. Cerita Ande-Ande Lumut (menurut referensi yang pernah saya baca) sering kali dijadikan tema dalam sendratari yang mengangkat cerita rakyat atau dijadikan musik pengiring dalam tari jaranan.
Wisata Budaya Jaranan
Menurut sejarah, asal muasal seni jaranan atau jaran kepang diangkat dari dongeng rakyat tradisional Kediri tepatnya pada Pemerintahan Prabu Amiseno yaitu Kerajaan Ngurawan, salah satu kerajaan yang terletak di Kediri sebelah timur Sungai Brantas. Konon sang Prabu berputera seorang putrid yang sangat cantik nan rupawan tiada banding yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata yang diberi nama Dyah Ayu Songgolangit. Tidak mengherankan kalau kecantikan Songgolangit tersohor di seantero jagad sehingga banyak raja dari luar daerah Kediri yang ingin mempersuntingnya.
Sonngolangit mempunyai adik laki-laki yang berparas tampan, terampil dan trengginas dalam olah keprajuritasn, bernama Raden Tubagus Putut. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan Raden Tubagus Putut mohon pamit pada ayahandanya untuk berkelana dan menyamar sebagai masyarakat biasa. Sementara itu di Kerajaan Bantar Angin yang dipimpin oelh Prabu Kelono Sewandono, Raden Tubagus Putut berminat mengabdi/Suwito. Berkat kemampuannya dalam olah keprajuritan ia diangkat menjadi patih kerajaan dan diberi gelar Patih Pujonggo Anom. Prabu Kelono Sewandono mendengar kecantikan Dyah Ayu Songgo Langit dan ingin meminangnya, maka diutuslah Patih Pujonggo Anom untuk melamar ke Kediri. Sebelum berangkat ke Kediri Pujonggo Anom memohon petunjuk kepada Sang Dewata agar dirinya tidak diketahui oleh ayahandanya maupun kakaknya.
Di kerajaan Ngurawan banyak berdatangan para pelamar diantaranya Prabu Singo Barong dari Lodoyo yang didampingi patihnya Prabu Singokumbang. Kedatangan Pujonggo Anom untuk melamar membuat terkejut Songgolangit, karena meskipun Pujonggoanom memakai topeng, ia mengetahui bahwa itu adiknya sendiri. Songgolangit menghadap ayahandanya menyampaikan bahwa Pujonggo Anom itu putranya sendiri. Mendengar penuturan itu maka murkalah sang ayah. Kemudian sang Prabu mengutuk Pujonggo Anom bahwa topeng yang dikenakan pada wajahnya tidak bisa dilepas dari wajahnya. Pujonggo Anom mengatakan pada Songgolangit bahwa lamarannya itu sebetulnya untuk rajanya yaitu Prabu Kelono Sewandono. Akhirnya Songgolangit mengeluarkan suatu Patembaya (sayembara) yang isinya: Dia menginginkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah; Barang siapa dapat membuat tontonan yang belum ada di jagad ini, dan bilamana digelar dapat meramaikan jagad; serta Pengarak manten menuju ke Kediri harus ‘nglandak sahandape bantala’ (lewat bawah tanah) dengan diiringi tetabuhan. Barang siapa yang bisa memenuhi permintaan tersebut maka si pencipta berhak mempersunting Dewi Songgolangit sebagai permaisuri.
Pujonggo Anom melaporkan permintaan Songgolangit kepada Prabu Kelono Sewandono. Karena merasa cukup sulit, akhirnya keduanya bersemedi memohon petunjuk Sang Dewata Agung. Dewata memberikan bahan berupa bantang bamboo, lempengan besi serta sebuah cambuk yang disebut Pecut Samandiman. Adapun batang bamboo digunakan untuk membuat kuda kepang yang melambangkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah, lempengan besi dijadikan bahan tetabuhan yang enak didengar. Dalam waktu singkat Kelono Sewandono beserta Pujonggo Anom sudah bisa memenuhi patembaya Dewi Songgolangit.
Akhirnya pasukan prajurit penunggang kuda dari Bantar Angin menuju Kerajaan Kediri dengan diiringi tetabuhan bisa menjadi tontonan yang belum pernah dilihat oelh masyarakat Kediri. Maka mulailah kesenian itu diberi nama Tari Jaran Kepang yang terdiri dari empat orang sebagai penari yang menggambarkan punggawa kerajaan ang sedang menunggang kuda dalam tugas mengawal raja. Tarian tersebut diiringi oleh satu unit musik gamelan jawa berupa ketuk, kenong, kempol, gong suwukan, terompet, kendang dan angklung. Di lain pihak Prabu Singo Barong merasa kedahuluan oleh Prabu Kelono Sewandono, maka marahlah Singo Barong dan terjadilah perang. Kelono Sewandono unggul dalam peperangan berkat pecut Samandiman. Singo Barong pasrah kepada Kelono Sewandono dan sanggup menjadi pelengkap dalam pertunjukkan jaranan yang digelar di Kerajaan Kediri, karena pada dasarnya mereka sangat menyukai musik gamelan. Dengan bergabungnya Singo Barong dan patihnya Singo Kumbang (celeng) maka genaplah penari jaranan berjumlah enam orang hingga ekarang ini.
Selain seperangkat gamelan, pagelaran jaranan juga membutuhkan sesaji yang harus disediakan dari sang dalang jaranan yang lazim disebut ‘Gambuh’ antara lain: Dupa (kemenyan yang dicampur dengan minyak wangi tertentu kemudian dibakar), Buceng (berisi ayam panggang jantan dan beberapa jajan pasar, satu buah kelapa dan satu sisir pisang raja), Kembang Boreh (berisi kembang kanthil dan kembang kenongo), Ulung-ulung (berupa seekor ayam jantan yang sehat), Kinangan (berupa satu unit gambir, suruh, tembakau dan kapur yang dilumatkan menjadi satu lalu diadu dengan tembakau). Selanjutnya sang gambuh dengan mulut komat-kamit membaca mantera sambil duduk bersila di depan sesaji mencoba untuk berkomunikasi dengan roh leluhur dan meminta agar menyusup ke raga salah satu penari jaranan. Setelah roh yang dikehendaki oleh Sang gambuh itu hadir dan menyusup ke raga salah satu penari maka penari yang telah disusupi raganya oleh roh tersebut bisa menari dibawah sadar hingga berjam-jam lamanya karena mengikuti kehendak roh yang menyusup di dalam raganya. Sambil menari, jaranan diberi makan kembang dan minum air dicampur dengan bekatul bahkan ada yang lazim makan pecahan kaca semprong.
Di Kediri kesenian Jaranan sering ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu penting, acara peresmian maupun pesta-pesta keluarga, terlebih untuk acara yang berlangsung pada bulan Suro.
3.Sumber daya manusia yang ada di Kota Kediri
4.Permasalahan yang ada di Kota kediri
5.Solusi yang di temukan dalam permasalahan yang ada di Kota Kediri
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari hasil makalah di atas kami menyimpulkan bahwa di kota kediri memiliki sejarah yang panjang kemudian terdapar sda dan sdm yang cukup banyak dan memeliki beberapa persoalan dan juga solusinya
2. Saran
Kita sebagai manusia yang berilmu harus lebih mengenal dan mengetahui Faktor – faktor kependudukan dan lingkungan hidup .
Perbanyak membaca agar ilmu pngetahuan dan wawasan kita bertambah banyak.

DAFTAR PUSTAKA
http://kotakediri.go.id/
http://kotakediri.go.id/?act=profile&id=sejarah&tt=Sejarah
http://iannnews.com/ensiklopedia.php?page=budaya&prov=27&kota=397
http://iannnews.com/ensiklopedia.php?page=budaya&prov=27&kota=397&id=67
http://iannnews.com/ensiklopedia.php?page=budaya&prov=27&kota=397&id=66

MAKALAH

“Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup”
disusun oleh
Gani Nur Pramudyo
Kelas : X - 2
Semester 1
Tahun Pelajaran 2011/2012
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah ini yang berjudul “ Kota Kediri ” dapat kami selesaikan.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran PKLH (Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup) kelas X semester 1 Tahun Pelajaran 2011/2012.
Dalam penyusunan makalah ini banyak pihak yang telah membantu kami baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami tersebut baik yang secara langsung maupun tidak langsung.
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Kami pun menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan maupun kesalahan, seperti kata pepatah “ tak ada gading yang tak retak “ karena kami hanya manusia biasa yang masih perlu banyak belajar. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk penyusunan makalah di masa depan yang lebih baik lagi.

Kediri,      Nopember 2011
Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman Depan......................................................................................................... i
Kata Pengantar......................................................................................................... ii
Daftar Isi................................................................................................................. iii
BAB I    PENDAHULUAN................................................................................... 1
1.      Latar Belakang.................................................................................... 1
2.      Rumusan Masalah............................................................................... 1
3.      Tujuan................................................................................................. 1
4.      Manfaat............................................................................................... 1
BAB II   ISI............................................................................................................. 2
1.      Sejarah Kota Kediri............................................................................ 2
2.      Sumber Daya  Alam yang ada di Kota Kediri.................................... 3
3.      Budaya yang ada di Kota Kediri........................................................ 3
4.      Sumber daya alam yang adad di Kota Kediri..................................... 3
5.      Permasalahan yang ada di Kota kediri................................................ 4
6.      Solusi yang di temukan dalam permasalahan yang ada di Kota Kediri            5
BAB III PENUTUP.......................................................................................... 6
1.      Kesimpulan......................................................................................... 6
2.      Saran................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 7

Share with your friends

Add your opinion
Disqus comments
Notification
Gani Nur Pramudyo merupakan Awardee LPDP dan saat ini akan menempuh studi Magister Ilmu Perpustakaan FIB Universitas Indonesia 2019. Apabila Anda berminat untuk mengundang saya sebagai narasumber, pemateri, atau pembicara di institusi Anda, dengan senang hati saya akan berusaha menyanggupinya. Silakan kontak via email ke gani_nurp@yahoo.com atau DM via Instagram gani_igan. Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.
Done