Membuat "penyeberangan metadata" repositori institusi

Membuat penyeberangan metadata repositori institusi

Skripsi berjudul "Interoperabilitas Skema Metadata Perangkat Lunak Repositori Institusi Perpustakaan Perguruan Tinggi di Kota Malang" kami konversi menjadi jurnal (practioner paper) dan diterbitkan oleh Jurnal Lecture Notes in Computer Science (Scopus Q2). Jurnal dipublikasikan dalam bentuk book chapter, ketika mengikuti The 22nd International Conference on Asia-Pacific Digital Libraries (ICADL 2020), pada 30 November - 1 Desember 2020 secara virtual dan gratis. Jurnal ini lahir dari fokus pembahasan ketiga skripsi "Interoperabilitas skema metadata perangkat lunak repositori institusi" dan "Faktor pendukung dan penghambat interoperabilitas". 

Pengumpulan data saya lakukan pada 30 Januari-28 Februrari 2018. Penelitian saya lakukan di  Perpustakaan Universitas Brawijaya, Perpustakaan Universitas Negeri Malang dan Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang. Ketiganya berisi total 5 situs utama yang saya teliti yaitu BKG, Eprints UB, Mulok, Eprints UMM dan GDL. 

Ketertarikan saya membahas metadata dan repositori institusi berawal dari mata kuliah "metadata", tugas observasi "penerapan repositori institusi di universitas", dan kolaborasi riset dengan Pak Hendrawan tentang metadata untuk otomasi dan metadata untuk repositori. Sehingga saya memutuskan untuk melanjutkan riset tersebut.

Penyeberangan metadata atau dikenal metadata crosswalks adalah salah satu metode dan upaya mewujudkan interoperbilitas antar perangkat dan metadata yang beragam. Metadata yang digunakan umumnya beragam, sehingga berbagi data menjadi sulit dilakukan, baik tingkat lokal dan interlokal.

Upaya interoperabilitas dapat dilakukan ditiap perpustakaan seperti ketika melakukan migrasi sistem, membagikan data katalog induk, dan harvester lainnya. Meskipun terlihat mudah, namun ada beberapa kendala yang muncul ketika berinteroperabilitas. Elemen dan konten metadata menjadi hilang, metadata yang dipanen tidak lengkap, dsb. 

Penyeberangan menjadi langkah awal, secara sederhana dan paling umum digunakan ketika sistem dan metadata berbeda dicoba untuk bertukar dan berbagi. Hasilnya pemetaan antar elemen tanpa mengurangi elemen dan nilai metadata dapat diminimalisir. Identifikasi ini setidaknya menghasilkan apa saja yang harus dilakukan selama berinteroperabilitas, dan manfaat yang diperoleh seperti meningkatkan visibilitas dan menunjang webometric. 

Namun, ketika metadata telah dibagikan muncul permasalahan yang harus segera diatasi, yaitu sistem hanya menampilkan deskripsi dan tidak menautkan File (PDF). 

Bagaimana membuat "penyeberangan metadata" repositori institusi? 

Berikut saya bagikan jurnal yang telah saya buat yang berasal dari skripsi. 

Judul

Metadata Interoperability for Institutional Repositories: A Case Study in Malang City Academic Libraries Authors Authors and affiliations.

Abstrak

The aim of this study is to understand, describe, and analyze metadata interoperability in Universitas Brawijaya Library that used Brawijaya Knowledge Garden (BKG) and Eprints software, University of Muhammadiyah Malang Library that used Ganesha Digital Library (GDL) and Eprints software, and Malang State Library that used Muatan Lokal (Mulok) software. This study also discussed supporting and inhibiting factors for interoperability metadata. This study employed a case study-qualitative approach. The finding indicates that metadata interoperability can be performed by using metadata crosswalks. Implementation metadata crosswalks by mapping BKG fields and GDL Fields to the Dublin Core Metadata Element Set (DCMES). The results in the mapping of appropriate metadata schemes without removing the existing metadata scheme element and demonstrating technical specifications for standard metadata. Open Archives Initiative Protocol for Metadata Harvesting (OAI-PMH) features can use for metadata interoperability in the union catalogue that has been being developed by the National Library of Indonesia, called Indonesia OneSearch. The supporting factors in metadata interoperability are standard metadata and a standard protocol for interoperability; whereas, the inhibiting factor is the minimum human resources having metadata capability and the open access policy that has not been applied to each academic library. All of those academic libraries need to make an effort to external interoperability to union catalogues to improve visibility of digital content and apply open access policies.

Kata kunci

Metadata crosswalks; Metadata interoperability; Institutional repositories;

Unduh jurnal: 

Via Springer Link: Metadata Interoperability for Institutional [...] (Berbayar)
Via Researchgate: Metadata Interoperability for Institutional  [...] (dengan permintaan)

Ayo mengikuti konferensi internasional!

Konferensi internasional ICADL merupakan forum ilmiah internasional yang rutin diselenggarakan tiap tahun yang bertema perpustakaaan digital. Acara ini biasanya berbayar namun karena Virtual dan Pandemi, pada tahun 2020 dan 2021 pendaftaran dan penerbitan book chapter (Scopus Q2) tidak berbayar.

Tulisan  di bawah ini dikirim di whatsapp group Keluarga ilmu perpustakaan FIA UB pada 01 Desember 2020:

Ketika mengikuti konferensi, banyak hal menarik utamanya ketika pertama mendaftar Selanjutnya, saya juga ingin membagikan sedikit cerita mengikuti konferensi ini. Awalnya saya mendapatkan informasi konferensi dari sebuah Grup Whatsapps prodi. Saya coba cari informasi dan tertarik ikut karena memiliki tema menarik bagi saya. Selain itu, konferensi ini juga diselenggarakan secara gratis dan virtual. Selanjutnya, saya mencoba menghubungi narahubung dan memastikan bahwa konferensi ini tidak berbayar. Lalu saya persiapakan paper dengan mengemas kembali salah satu riset sesuai tema konferensi untuk dijadikan paper bersama Pak Hendra. Secara personal, ini adalah paper pertama yang saya ikutkan ke konferensi internasional. Paper ini saya kirimkan 10 Juli 2020 melalui conference’s EasyChair submission page. 

Pengumuman paper disampaikan melalui email pada 26 Agustus 2020. Alhamdullilah paper kami ini diterima, dengan catatan dan beberapa revisi perbaikan dari tiga riviewer berbeda. Salah satu perbaikannya adalah harus menggunaan template LaTeX. Presentasi dilakukan menggunakan zoom secara live dan menggunakan rekaman presentasi yang akan ditampilkan. Kami memilih live untuk penyampaian paper dan saya berkesempatan menjadi representatif dari paper ini saat presentasi. 

Hasil paper diterbitkan dalam bentuk prosiding yang memuat 10 fullpaper, 15 shortpaper, 4 practioners paper (termasuk paper kami) dan 10 paper yang masih dikerjakaan. Total ICADL menerima 39 paper dari total 79 paper yang dikirimkan oleh peserta melalui proses seleksi dan riview. 

Gani Nur Pramudyo
Gani Nur Pramudyo Halo saya Gani! Saya blogger yang menginspirasi melalui tulisan, peneliti metadata, dan long-life learner.

1 comment for "Membuat "penyeberangan metadata" repositori institusi"

  1. Apakah kamu tertarik mengikuti konferensi internasional bidang ilmu perpustakaan dan informasi? bagaimana cara mendapatkan informasinya?

    Kamu dapat pantau web https://www.infotoday.com/calendar.asp. Disini kamu bisa dapatkan informasi terbaru seputar konferensi yang diadakan dalam waktu dekat.

    Selain kamu juga bisa pantau dilaman web ini melalui menu infotoday https://www.ganipramudyo.web.id/search/label/Info%20Today. Info ini berasal dari pengamatan dan rekomendasi saya.

    Keep up to date!

    ReplyDelete

Jika ada pertanyaan, saran, dan kritik membangun, silahkan tulis pada kolom komentar.
Jangan lupa kenalkan diri dulu, minimal nama dan asal daerah.

Salam Literasi