Memilih "perangkat lunak" repositori institusi

Memilih "perangkat lunak"  repositori institusi

Skripsi berjudul "Interoperabilitas Skema Metadata Perangkat Lunak Repositori Institusi Perpustakaan Perguruan Tinggi di Kota Malang" kami konversi menjadi jurnal dan diterbitkan oleh Jurnal Baca (Sinta 2). Jurnal ini lahir dari fokus pembahasan pertama skripsi "Perangkat lunak repositori institusi" yang berisi dua sub bahasan pemilihan dan fitur perangkat lunak. 

Pengumpulan data saya lakukan pada 30 Januari-28 Februrari 2018. Penelitian saya lakukan di  Perpustakaan Universitas Brawijaya, Perpustakaan Universitas Negeri Malang dan Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang. Ketiganya berisi total 5 situs utama yang saya teliti yaitu BKG, Eprints UB, Mulok, Eprints UMM dan GDL. 

Ketertarikan saya membahas metadata dan repositori institusi berawal dari mata kuliah "metadata", tugas observasi "penerapan repositori institusi di universitas", dan kolaborasi riset dengan Pak Hendrawan tentang metadata untuk otomasi dan metadata untuk repositori. Sehingga saya memutuskan untuk melanjutkan riset tersebut.

Secara umum bahwa "metadata adalah data tentang data", "Terstruktur". Istilah metadata kadang sangat menakutkan bagi sebagian orang, yang pada dasarnya tidak terlalu sulit. Jika dilihat "Metadata" serupa dengan "Katalog perpustakaan (kertas)" yang sudah ada di perpustakaan. Kegiatan katalogisasi buku, serupa dengan kegiatan deskripsi metadata yang outputnya untuk keperluan temu kembali efektif. 

Metadata diperlukan terutama untuk memudahkan temu kembali dan berbagi data. Metadata di perpustakaan tidak bisa seragam dalam hal pengatalogan, ada yang pakai Dublin Core "standar sejuta umat", MODS sebagai penengah tidak terlalu banyak ruas yang perlu diisi, INDOMARC khas perpustakaan yang diklaim paling lengkap diantara keduanya. 

Untungnya metadata di repositori cenderung sama menggunakan "Dublin Core" hal ini nampaknya sejalan dengan amanat dan wanti-wanti dari Guide Google Scholar. Dalam guide tersebut pun dicontohkan perangkat lunak yang sesuai seperti Eprints, Dspace, dan Digital commons. Kalau mau diindeks dan dikenali sebagai "karya ilmiah" harus menambahkan beberapa ruas metadata Dublin Core di aplikasi selain rekomendasi Google.

Meskipun metadatanya hampir sama, perangkat lunaknya pun tak bisa seragam, alih-alih mempertahankan perangkat lunak buatan sendiri, pun harus ikut dengan perkembangan dan trens saat ini "Webometric" dan menggunakan perangkat lunak "Opensource". 

Bagaimana memilih "perangkat lunak" repositori institusi? 

Berikut saya bagikan jurnal yang telah saya buat yang berasal dari skripsi. 

Judul

Pemilihan perangkat lunak repositori institusi perpustakaan perguruan tinggi di Kota Malang (Studi kasus di Perpustakaan Universitas Brawijaya, Perpustakaan Universitas Negeri Malang, dan Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang)

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mendeskripsikan, dan menganalisis pemilihan perangkat lunak repositori institusi di Perpustakaan Universitas Brawijaya (UB), Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM), dan Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), serta membandingkan fitur-fitur perangkat lunak repositori institusi. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus multi-situs dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, pengunaan dokumen dan materi audio-visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan perangkat lunak di perpustakaan perguruan perlu memperhatikan empat aspek pemilihan perangkat lunak: (1) sesuai dengan keperluan; (2) memiliki izin pemakaian; (3) dukungan teknis, pelatihan, dokumentasi yang relevan serta pemeliharaan; (4) staf yang bertanggung jawab atas pemilihan dan evaluasi perangkat lunak koleksi digital dan layanan terkait untuk memenuhi kebutuhan pemakai atau komunitas. Pemilihan perangkat lunak repositori institusi tidak tepat menyebabkan Perpustakaan UB melakukan migrasi data dari BKG ke Eprints dan Perpustakaan UMM melakukan migrasi manual dari GDL ke Eprints. Perpustakaan perguruan tinggi perlu memerhatikan aspek pemilihan perangkat lunak yang tepat dalam membangun dan mengembangkan repositori institusi serta fitur yang ada di dalamnya

Kata kunci

Repositori institusi; Institutional repository; perpustakaan digital; Digital library; perangkat lunak perpustakaan; Library software; Sistem Informasi; Information system; Webometric; Perpustakaan perguruan tinggi; Academic Library.

Unduh jurnal: 

Gani Nur Pramudyo
Gani Nur Pramudyo Halo saya Gani! Saya blogger yang menginspirasi melalui tulisan, peneliti metadata, dan long-life learner.

1 comment for "Memilih "perangkat lunak" repositori institusi "

  1. Repositori institusi; Institutional repository; perpustakaan digital; Digital library; perangkat lunak perpustakaan; Library software; Sistem Informasi; Information system; Webometric; Perpustakaan perguruan tinggi; Academic Library.

    ReplyDelete

Jika ada pertanyaan, saran, dan kritik membangun, silahkan tulis pada kolom komentar.
Jangan lupa kenalkan diri dulu, minimal nama dan asal daerah.

Salam Literasi