Kolaborasi dan Konvergensi Perpustakaan, Arsip dan Museum di Kota Malang (Studi pada Perpustakaan Militer dan Museum Brawijaya Malang)

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang

Perkembangan teknologi informasi yang pesat semakin memudahkan pengelolaan informasi yang ada di suatu lembaga informasi tak terkecuali seperti perpustakaan, arsip dan museum. Penerapan teknlogi informasi dalam perpustakaan, arsip dan museum tidak hanya memudahkan tatakelola informasi yang dikelola melainkan juga memudahkan dalam membantu memberikan pelayanan bagi pemakai. Namun, dewasa ini penerapan teknologi informasi di ketiga lembaga informasi tersebut hanya sebatas kebutuhan internal kelembagaan dan tidak dianggap sebagai bentuk dukungan untuk saling berkolaborasi, bekerjasama dan bertukar data.

Menurut Sulistyorini, Dyah (2015) Hubungan antara perpustakaan, arsip dan museum, kerap kali dipisahkan, padahal ketiganya memungkinkan untuk bekerja sama dan berkolaborasi. Pemisahan cara pandang biasanya diawali dengan kacamata bahwa kegiatan di museum hanya mengelola artefak, sedangkan kegiatan perpustakaan erat dengan tata kelola buku (kini dalam arti luas), lalu arsip lekat dengan pengelolaan terhadap rekaman grafis.Senada dengan pemisahan cara pandang lembaga informasi, Susantio, Djulianto (2014) menjelaskan Lembaga perpustakaan, arsip, dan museum sebenarnya sama-sama menyimpan informasi tentang masa lalu. Hanya bedanya, museum menyimpan informasi tidak tertulis berupa artefak, sementara arsip dan perpustakaan menyimpan informasi tertulis dan terekam. Sementara Duff, W. M., dkk (2013:2) menjelaskan bahwa perpustakaan, arsip dan museum memiliki kesamaan fungsi (seperti pengumpulan, konservasi, penelitian, dan pelayanan publik) memungkiri perbedaan praktik profesional, pelatihan, dan metode organisasi yang sebagian besar membedakan bidang ini saat ini. Lebih lanjut The International Federation of Library Associations and Institutions/IFLA (2004) menjelaskan kolaborasi lembaga informasi tidak sebatas perpustakaan, arsip dan museum melainkan juga kolaborasi monumen dan situs yang memiliki kerja sama yang lama dan sekarang sepakat untuk meningkatkan kerja sama antara untuk kepentingan dan kegiatan bersama.         

Dari penjelasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perpustakaan, arsip, museum dan monumen memiliki kesamaan fungsi, pelayanan kepada pemakai, pemakai itu sendiri serta mendukung untuk tercapainya kerjasama di masing-masing lembaga tersebut. Mengacu pada perpustakaan, arsip dan museum untuk bekerjasama dan berkolaborasi, di Kota Malang sendiri terdapat beberapa perpustakaan, arsip dan museum. Sebagai contoh terdapat Museum Brawijaya dan Perpustakaan Militer  yang letaknya Jl. Ijen, No. 25 A, Gading Kasri, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65115, Indonesia.. Namun jika dilihat dari aspek kolaborasi dan kerjasama untuk mencapai konvergensi di lembaga informasi tersebut masih belum terlihat jelas.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis ingin mengkaji secara lebih mendalam tentang tantangan atau hambatan dalam konvergensi lembaga informasi perpustakaan, arsip dan museum di kota malang. Selain itu, makalah ini juga berusaha untuk mengetahui lebih jauh tentang manfaat kolaborasi dan konvergensi perpustakaan, arsip dan museum di Kota Malang studi pada Perpustakaan Militer dan Museum Brawijaya. Sehingga nantinya dapat memberikan masukan dan saran bagi lembaga informasi (perpustakaan, arsip dan museum) untuk mewujudkan kolaborasi dan konvergensi.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat disumpulkan yang menjadi rumusan masalah makalah ini sebagai berikut  :

1.    Bagaimana tantangan  dalam kolaborasi dan konvergensi Perpustakaan Militer dan Museum Brawijaya ?

2.    Apa manfaat kolaborasi dan konvergensi Perpustakaan Militer dan Museum Brawijaya?

C.   Tujuan

Untuk menjawab pertanyaan dari rumusan masalah di atas, maka tujuan dari makalah ini sebagai berikut  :

1.    Untuk mengetahui dan mendeskripsikan tantangan dalam mewujudkan kolaborasi dan konvergensi Perpustakaan Militer dan Museum Brawijaya

2.    Untuk mengetahui dan mendeskripsikan manfaat kolaborasi dan konvergensi Perpustakaan Militer dan Museum Brawijaya

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.   Kolaborasi dan Konvergensi Perpustakaan, Arsip  dan Museum

Mahmud, Shahed (2014:13) menjelaskan konvergensi adalah proses dimana dua atau lebih orang atau organisasi memiliki serangkaian pengetahuan umum melalui proses pengembangan pengetahuan dan  interaksi sosial yang merupakan aspek paling dasar dan esensial dari saling ketergantungan kognitif di antara mitra kerja sama.Komunikasi yang konsisten dan terbuka, fleksibilitas, penghormatan terhadap perbedaan di antara kolaborator. Pengembangan dan implementasi sistem akses online terpadu,program pencitraan digital, metadata, pengelolaan data, penyimpanan, dan akses yang dikembangkan dengan baik adalah tujuan dari  di antara lembaga informasi. Sementara  Yudhawasthi, C. Musiana (2014) Secara alami, perpustakaan, lembaga arsip dan museum sesungguhnya merupakan mitra - partner, karena kerap melayani masyarakat pemakai yang sama dengan cara yang sama. Kerjasama dengan berbagai cara dari ketiga lembaga ini dapat saling mengisi tujuan, dan melayani pemakai mendapatkan yang terbaik melalui kemampuan kolektif.Lebih lanjut  Duff, W. M., dkk (2013:4) menjelaskan tinjauan literatur ilmiah mengenai kolaborasi dan konvergensi yang ditulis selama lima tahun terakhir mengungkapkan empat tema berulang: batasan dan kemungkinan kolaborasi dan konvergensi; kebutuhan akan kolaborasi dan konvergensi institusional dan disipliner; pengalaman membangun kemitraan dan kolaborasi; dan peran pendidikan.

1.    Batasan dan kemungkinan kolaborasi dan konvergensi

Batas konvergensi antar perpustakaan, arsip dan museum dilihat sebagaimana pustakawan, arsiparis dan profesional museum memaknai layanan, koleksi, pemakai dan budaya masing-masing lembaga informasi. Misalnya, ada perbedaan mendasar antara "melihat" koleksi, seperti tipikal dalam museum, dan “menggunakan” atau “membaca” bahan perpustakaan dan arsip. Perbedaan ini menunjukan entitas yang mewakili identitas masing-masing lembaga informasi. Untuk mewujudkan kolaborasi maka perbedaan dianggap sebagai hal yang saling melengkapi. Kolaborasi lembaga informasi akan sukses jika kolaborator mampu mengidentifikasi persamaan dan perbedaan substantif.

2.    Kebutuhan akan kolaborasi dan konvergensi

Untuk memenuhi kebutuhan pemakai, maka lembaga perpustakaan, arsip dan museum harus menyediakan pelayanan dan sumber informasi yang memenuhi tuntutan pemakai. Dengan semakin berkembangnya teknologi internet, perpustakaan, arsip dan museum dapat memanfaatkannya untuk saling bertukar data dan informasi. Internet dipandang sebagai media yang dapat menjadi perantara antara ketiga lembaga informasi ini. Namun, hal ini tentunya harus didukung oleh sumber daya manusia, infrastruktur dan anggaran yang memadai. Selain itu juga harus ada kebijakan yang menaungi pertukaran data tersebut.

3.    Pengalaman membangun kemitraan dan kolaborasi

Jika dilihat lembaga informasi diluar Indonesia, maka sebenarnya konsep konvergensi perpustakaan, arsip dan museum adalah hal yang biasa dilakukan. Namun di Indonesia terutama di Malang belum ada pengalaman kerjasama yang membangun kolabarasi perpustakaan, arsip dan museum. Kolaborassi ketiga lembaga informasi ini hanya berupa gagasan yang belum dapat direalisasikan.

4.    Peran pendidikan

Pendidikan untuk mencetak profesional di bidang perpustakaan, arsip dan museum merupakan hal yang harusnya dilakukan. Pemerintah harus berupaya untuk mengembangkan sumber daya ahli dibidangnya. Dengan dengan sumber daya yang dididik maka diharapkan dapat mewujudkan kolaborasi dan konvergensi lembaga informasi ini.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa konvergensi perpustakaan, arsip dan museum merupakan hal mendasar bagi lembaga informasi untuk saling berkolaborasi untuk memenuhi kebutuhan pemakai, mengembangkan koleksi yang dimiliki serta mengembangkan layanan yang disediakan dengan memanfaatkan potensi masing-masing lembaga informasi tersebut. Perpustakaan, arsip dan museum pada hakekatnya dapat berkolaborasi untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan pemakai.

B.   Tantangan  dalam konvergensi perpustakaan, arsip dan museum

Menurut Duff, W. M., dkk (2013:16) tantangan yang dikategorikan secara luas bersifat institusional atau profesional, mengatasi keberadaan strukrur institusional (seperti akses terhadap koleksi), untuk menyesuaikan diri dengan perubahan identitas dan nilai profesional, dan mengatasi hambatan komunikasi dan bahasa.

1.    Institutional silos and access systems

Proses konvergensi sistem akses dan skema metadata yang berbeda-beda sebagai dipandang sebagai suatu tantangan. Sebuah sistem dan skema metadata standar idealnya menjadi salah satu kunci untuk pertukaran data (interoperability). Sistem lembaga informasi yang terintegrasi dan terpusat akan memudahkan proses pencarian dan temu balik informasi.

2.      Professional identities, values, languages and communications

Tantangan terbesar dalam konvergensi yaitu terhubung dengan identitas profesional dan keahlian profesional. Keahlian seseorang adalah apa yang memberinya nilai. Sedangkan nilai berasal dari budaya dari masing-masing profesional. Perbedaan profesional juga dapat dilihat dari cara berpikir dan penggunaan bahasa. Selain itu berkomunikasi secara efektif dengan pemangku kepentingan dan staf merupakan tantangan besar.  Sementara Zorich, Diane M.(2008:7) menambahkan beberapa tantangan konvergensi perpustakaan, arsip dan museum yaitu :

3.      Infrastruktur

Infrastruktur masing-masing lembaga dinilai memilikim kelebihan dan kekurangan masing-masing. Infrastruktur yang baik akan membuat kolaborasi lebih mudah, seperti tersedianya sistem dan jaringan internet. Selain itu juga tersedia sarana prasana koleksi yang memadai di masing-masing lembaga informasi.

4.      Organisasi

Ketersediaan anggaran dalam lembaga informasi yang terbatas.  Anggaran yang terbatas membuat sulit berkembangnya kolaborasi lembaga informasi. Disisi lain jika tidak ada anggaran maka kolaborasi tidak dapat berjalan. Sehingga mengalami kemunduran dalam berkolaborasi.

5.      Koleksi dan Pengajaran

Ada kebutuhan yang beragam dari pemakai di masing-masing lembaga informasi. Kebutuhan yang beragama mengharuskan lembaga informasi untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Selain itu kolaborasi lembaga informasi ini juga akan menjadi percontohan bagi lembaga informasi lain agar dapat berkolaborasi satu sama lain. sehingga tercipatanya konvergensi tiap-tiap lembaga informasi.

C.   Manfaat konvergensi perpustakaan, arsip dan museum

Ada sejumlah manfaat dalam melakukan kolaborasi antara perpustakaan, arsip dan museum. Secara lebih rinci Yarrow, A., Clubb, B., & Draper, J. L.  (2008:35) menjelaskan beberapa manfaat  konvergensi perpustakaan, arsip dan museum, sebagai berikut :

1.   Berbagi sumber

Berbagi sumber sebenarnya dapat menghemat anggaran untuk semua mitra. Lembaga informasi dapat menggunakan material bersama-sama. Dengan bekerjasama, lembaga informasi memperoleh koleksi yang lebih lengkap dan pemakai yang lebih banyak. Berbagi sumber juga dapat meningkatkan akses terhadap seluruh koleksi, dan kadangkala hal ini berdampak juga kepada peningkatan kualitas staf. Staf akan saling belajar dan mengenal material yang dimiliki oleh seluruh mitra kolaborasi.

2.   Meningkatkan kepedulian

Dengan berbagai jalan; proyek akan menerima dampak pemasaran yang kuat dan menumbuhkan visibilitas seluruh mitra. Display dan pameran akan selalu baru dan mutakhir, dengan menggunakan banyak bantuan professional teknik pameran dan hal ini akan menarik lebih banyak pengguna dan pengunjung dan juga pengguna dan pengunjung baru. Kolaborasi jelas akan menambah pengguna dan pengunjung baru untuk semua mitra.

3.   Meningkatkan kesadaran publik dan akses terhadap sumber

Kolaborasi dapat menyediakan kesempatan bagi perpustakaan, museum dan lembaga informasi yang bermitra untuk meningkatkan persepsi umum pada setiap institusi.

4.   Mendekatkan dengan pemakai dan komunitas

Kolaborasi juga membuka kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan komunitas dan seluruh mitra yang berpartisipasi. Yang tidak kalah penting, kolaborasi memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat untuk memilih berbagai cara untuk belajar.

D.   Gambaran Umum Lembaga Informasi di Kota Malang

Di Kota Malang terdapat banyak lembaga informasi, namun lokasi dan fokus di makalah ini adalah Perpustakan Umum dan Arsip Kota Malang serta Museum Brawijaya. Lembaga informasi ini dipilih karena berada dalam satu atap yaitu Komando Daerah Militer V/Brawijaya dan berdasarkan wilayah geografis juga berada di tempat yang sama. Berikut gambaran umum lembaga informasi yang penulis amati :

1.   Museum Brawijaya

clip_image002[6]

Gambar 1  Museum Brawijaya

Sumber : Hasil olahan penulis (2017)

a.   Sejarah

Usaha untuk pendirian Museum Brawijaya sudah dikerjakan mulai sejak th. 1962 oleh Brigjend TNI (Purn) Soerachman (bekas Pangdam VIII/Brawijaya th. 1959-1962). Pembangunan gedung museum lalu didukung pemerintah daerah kotamadya Malang dengan penyediaan tempat tanah seluas 10. 500 mtr. persegi, serta support cost dari Sdr. Martha, yang memiliki hotel di Tretes Pandaan. Arsitek museum yaitu Kapten Czi Ir. Soemadi. Museum di bangun pada th. 1967 serta usai 1968. Nama Museum Brawijaya diputuskan berdasar pada ketentuan Pangdam VIII/Brawijaya tanggal 16 April 1968 dengan sesanti (saran) ‘Citra Uthapana Cakra’ yang bermakna cahaya (citra) yang menghidupkan (uthapana) semangat/kemampuan (cakra). Sedang museum diresmikan pada tanggal 4 Mei 1968.

b.   Peranan

1.    Sebagai media pendidikan

2.    Sebagai tempat rekreasi

3.    Sebagai tempat riset ilmiah

4.    Sebagai tempat pembinaan mental kejuangan serta pewarisan nilai-nilai ’45 serta TNI ’45 untuk prajurit TNI serta orang-orang umum

5.    Sebagai tempat pembinaan mental kejuangan dalam rencana pembinaan wilayah

c.   Struktur Organisasi

clip_image004[6]

Gambar 2  Struktur Organisasi

Sumber : Hasil olahan penulis (2017)

d.    Layanan

Berikut jam kunjungan Museum Brawijaya

Senin-Kamis 08. 00-14. 30

Jumat 08. 00-11. 30

Sabtu-Minggu 08. 00-13. 00

e.   Koleksi

Koleksi di museum brawijaya berupa benda –benda peninggalan sejarah,relief, patung, uang kuno,  alat-alat dan senjata yang dipakai Kodam V/Brawijaya, sumbangan benda bersejarah dari para pelaku sejarah, masyarakat dan pemerintah. Contoh koleksi museum brawijaya yaitu Tank buatan Jepang hasil rampasan arek-arek Suroboyo pada bln. Oktober 1945,Gerbong Maut serta Perahu, Foto-foto Panglima Kodam di Jawa Timur mulai sejak 1945 hingga sekarang Lukisan baju seragam PETA, HEIHO, serta pejuang Lukisan Pamen, Pama, Bintara, serta Tamtama prajurit PETA,dst

2.   Perpustakaan Militer BINTALDAM V/Brawijaya

clip_image006[6]

Gambar 3 Perpustakaan Bintaldam V/Brawijaya

Sumber : Hasil olahan penulis (2017)

Perpustakaan Militer BINTALDAM V/Brawijaya merupakan jenis perpustakaan khusus yang dikelola oleh Kodam V melalui Bintaldam terletak di dalam Museum Brawijaya tepatnya dijalan Jl. Ijen, No. 25 A, Gading Kasri, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65115, Indonesia. Koleksi di Perpustakaan militer BINTALDAM V/Brawijaya berisi tentang pengetahuan sejarah dan beberapa buku terkait koleksi yang berhubungan dengan museum brawijaya. Sedangkan jam buka layanan mengikuti Museum Brawijaya yaitu Senin-Kamis 08. 00-14. 30,Jumat 08. 00-11. 30 dan Sabtu-Minggu 08. 00-13.00.

E.    Kolaborasi dan Konvergensi Perpustakaan Militer dan Museum Brawijaya 

Di museum brawijaya terdapat koleksi – koleksi yang berupa peninggalan sejarah, alat-alat yang digunakan KODAM V Brawijaya, arsip-arsip KODAM V Brawijaya, patung, artefak, manuskrip, foto, realia dan monumen. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis setidaknya terdapat banyak koleksi sejarah yang ada di KODAM V Brawijaya, namun tidak sedikit juga berupa peninggalan sejarah lain. Sementara di Perpustakaan Militer KODAM V Brawijaya berdasarkan hasil observasi penulis dinilai sebagai sarana untuk menyimpan koleksi tentang buku sejarah dan berkaitan dengan dokumen dan arsip KODAM V Brawijaya itu sendiri. Terkait dengan Kolaborasi dan Konvergensi Perpustakaan Militer BINTALDAM V/Brawijaya dan Museum Brawijaya  Bapak M.A. Tabiin Selaku Tur Pemandu menjelaskan :

“Jadi gini, ee kalo di museum brawijaya ini berada dibawah Bintaldam V brawijaya  yaa, bintaldam. Bintaldam itu (pembinaan mental kodam V brawijaya) jadi satuan dibawah kodam brawijaya namanya Bintaldam, ini sama kayak punya saya bintaldam membawahi museum.lah disini ada tiga biro, biro perpustakan yaa misalnya sii... tepatnya gini Sibindoklistaka (seksi dokumen, penulisan, maksud penulisan sejarah ya, dan perpustakaan) dan ada Sibinmusmontra (seksi pembinaan musuem monumen dan tradisi ada) kalo disini di atas kita2 ini, biro.. Balakmus(badan pelaksana museum). Jadi ada 3 biro disini, masing- masing memiliki tugas, kita saling berkaitan.(Wawancara Pribadi, 18 Oktober 2017)

Sehingga dapat disimpulkan di satuan Kodam V Brawijaya terdapat tiga biro yaitu Sibindoklistaka, Sibinmusmontra, Balakmus. Sehingga museum brawijaya berada di bawah naungan Biro Balakmus, dan dibawah satuan Kodam V Brawijaya. Ketiga biro tersebut menjalanka tupoksi (tugas, pokok dan fungsi) masing-masing dan saling berkolaborasi. Berikut struktur organisasi lembaga informasi perpustakaan dan museum yang ada di Kodam V brawijaya.

clip_image008[6]

Gambar 4 Struktur Organisasi Bintaldam V Brawijaya

Sumber : Hasil olahan penulis (2017)

Lebih jauh tentang kolaborasi dan konvergensi perpustakaan militer dan museum brawijaya, Bapak M.A. Tabiin Selaku Tur Pemandu menjelaskan :

“Ada hubungan atau korelasilah satu sama lain.namun kalo sampean tanyakan untuk arsip dan dokumen lebih lengkap kalo diperpustakaan.bisa menemui pak cahyo atau pak kusno ada orangnya. Kalo sampean nanya tentang sejarah 10 nopember, sejarah panglima sudirman, terus pokoknya.. silahkan  tanya. Kan tidak setiap pertanyaan ada,Cuma untuk lengkapnya disini ada benda-bendanya.. yaa.. ngerti yang saya maksudkan. Terus kalo yang tadi musmontra itu, ee museum monumen dan tradisi itu, ini ada nama-nama monumen se jawatimur ada disini. Kalo pean tanya monumen di malang dimana letaknya, fotonya juga ada , jadi lebih pas. Tapi tetep sama, sama disini ada hubungan . karenakan kita satu atap ,yaa. Cuma  yaa satu atap. Untuk ee pembagian biro-biro itu lebih memudahkan kepada pengunjung dan masyarakat apa yang di inginkan.oh saya ee kesana. Tidak semua disini nggak, tidak semua disini ndak. Jadi kita saling, saling mengisi satu biro sesuai dengan tupoksi. Yaa tugas pokok dan fungsi masing-masing ada. Jadi pertanyaan sampean ini sudah terjawab semuanya ,lengkap,gak perlu satu-satu, gak perlu, gak perlu satu-satu.tetap ada satu korelasi dan hubungan.  Karena, karena tugas nya saling berkaitan.(Wawancara Pribadi, 18 Oktober 2017)

Dari pernyataan di atas dapat dilihat bahwa perpustakaan militer dan museum brawijaya memiliki atap yang sama yaitu dibawah naungan KODAM V.Sehingga dari segi struktur organisasi membentuk suatu hubungan tersendiri. Antara museum dan perpustakaan saling melengkapi untuk benda ada di museum sementara buku ada diperpustakaan. Bapak M.A. Tabiin Selaku Tur Pemandu menjelaskan secara sederhan terkait benda di museum sedangkan buku yang ada perpustakaan:

“Misalnya ee kayak ini gerbong lautlah contohnya  gerbong laut disana juga ada bukunya. Buku yang menceritakan tentang gerbong laut terus ini tank amper ini juga ada bukunya disana. Ceritanya tentang tank amper. Jadi yang kita sampaikan ke pengunjung itu tidak lepas dari buku tadi Cuma gk mungkin buku yang besar tadi kita kupas satu jam pasti bosen pengunjungnya. Kita ceritakan sepenggal-penggal karena banyaknya benda-benda.”(Wawancara Pribadi, 18 Oktober 2017)

Jika dilihat dari aspek kolaborasi dan konvergensi secara luas, menurut Mahmud, Shahed (2014:13) menjelaskan konvergensi adalah proses dimana dua atau lebih orang atau organisasi memiliki serangkaian pengetahuan umum melalui proses pengembangan pengetahuan dan  interaksi sosial yang merupakan aspek paling dasar dan esensial dari saling ketergantungan kognitif di antara mitra kerja sama. Artinya proses kolaborasi dan konvergensi melibatkan dua atau lebih orang atau organisasi untuk dapat mencapai kolaborasi dan kovergensi. Jika dilihat dari aspek dua organisasi yang berkolaborasi,  Bapak M.A. Tabiin Selaku Tur Pemandu menjelaskan :

“Kalo sama perpustakaan umum kota malang itu beda, beda. sama-sama perpustakaannya,karena itu dibawah pemerintah kota malang, kalo disini dibawah bintaldam V brawijaya , dibawah kodam. Sama-sam perpustakaan, berbeda institusinya.beda, kalo  disana perpustakaan umum ya artinya ada buku sejarahnya, buku sekolah, ada pelajaran pengetahuan umumnya. Kalo disini khusus, ya artinya khusus kesejarahan. Tidak hanya benda, sejarah perjuangan bangsa, mungkin cerita tentang 30 tahun setelah indonesia merdeka, termasuk juga ilmu pengetahuan. Kalo mas tanya fisika gak ada.” (Wawancara Pribadi, 18 Oktober 2017)

Berdasarkan penjelasan di atas maka untuk kolaborasi dan konvergensi di luar institusi kodam V brawijaya belum nampak. Kolaborasi dan konvergensi lembaga informasi hanya pada tingkat instansi KODAM V yaitu Perpustakaan dan Museum. Hal ini sesuai dengan pendapat Duff, W. M., dkk (2013:4) bahwa (1) BATASAN dan kemungkinan kolaborasi dan konvergensi dilihat sebagaimana pustakawan, arsiparis dan profesional museum memaknai layanan, koleksi, pemakai dan budaya masing-masing lembaga informasi. Perpustakaan dan Museum Brawijaya dinilai masih mementingkan khasanah lokal, masih tertutup sehingga belum ada kolaborasi dan konvergensi perpustakaan dan museum brawijaya dan perpustakaan umum kota malang. (2) Kebutuhan akan kolaborasi dan konvergensi, untuk memenuhi kebutuhan pemakai, maka lembaga perpustakaan, arsip dan museum harus menyediakan pelayanan dan sumber informasi yang memenuhi tuntutan pemakai. Pada Perpustakaan dan museum brawijaya telah melaksanakan kolaborasi dan konvergensi. Namun, melihat kebutuhan pemakai yang terus berkembang,sudah seharusnya dapat menjalin kerjasama dengan lembaga informasi lain misalnya perpustakaan umum kota malang.(3) Pengalaman membangun kemitraan dan kolaborasi. Jika dilihat lembaga informasi diluar Indonesia, maka sebenarnya konsep konvergensi perpustakaan, arsip dan museum adalah hal yang biasa dilakukan. Namun, di Perpustakaan dan museum brawijaya belum ada kerjasama dengan lembaga informasi lain. (4) Peran pendidikan, pendidikan untuk mencetak profesional di bidang perpustakaan, arsip dan museum merupakan hal yang harusnya dilakukan.

F.    Tantangan Kolaborasi dan Konvergensi Perpustakaan Militer dan Museum Brawijaya 

Telah dijelaskan sebulumnya bahwa  menurut Duff, W. M., dkk (2013:16) tantangan yang dikategorikan secara luas bersifat institusional atau profesional, mengatasi keberadaan strukrur institusional (seperti akses terhadap koleksi), untuk menyesuaikan diri dengan perubahan identitas dan nilai profesional, dan mengatasi hambatan komunikasi dan bahasa, infrastruktu, organisasi serta koleksi dan pengajaran

1.   Institutional silos and access systems

Proses konvergensi sistem akses dan skema metadata yang berbeda-beda sebagai dipandang sebagai suatu tantangan. Namun dalam penerapannya perpustakaan dan museum brawijaya belum menggunakan otomasi, sehingga untuk pertukuran data bibliografis secara digital tidak dapat dilakukakan

2.   Professional identities, values, languages and communications

Tantangan terbesar dalam konvergensi yaitu terhubung dengan identitas profesional dan keahlian profesional. Jika dilihat dari sumber daya manusia yang dimiliki Perpustakaan dan museum Brawijaya masih belum mumpuni sehingga perlunya sumberdaya yang dapat mengelola dan menginisiasi kolaborasi dengan lembaga informasi lain.

3.   Infrastruktur

Infrastruktur masing-masing lembaga dinilai memilikim kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan dari museum brawijaya memiliki benda-benda peninggalan sejarah sedangkan di perpustakaan sebagain tidak memiliki buku yang sesuai dengan benda yang ada di museum. Sehingga perlunya sinergi antara benda yang ada di museum dan di perpustakaan

4.   Organisasi

Ketersediaan anggaran dalam lembaga informasi yang terbatas. anggaran juga menjadi salah satu aspek yang ada di Perpustakaan dan Museum Brawijaya. Dengan anggaran perpustakaan dapat melaksakan pengadaan buku baru untuk memenhi kebutuhan pengguna

5.   Koleksi dan Pengajaran

Ada kebutuhan yang beragam dari pemakai di masing-masing lembaga informasi. Kebutuhan yang beragama mengharuskan lembaga informasi untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Adanya keterkaitan antara perpustakaan dan museum brawijaya yaitu dari aspek kolaborasi dan saling bekerjasama dalam memenuhi kebutuhan pemustaka.

G.   Manfaat  Kolaborasi dan Konvergensi Perpustakaan Militer dan Museum Brawijaya 

Menurut Yarrow, A., Clubb, B., & Draper, J. L.  (2008:35) menjelaskan manfaat  konvergensi perpustakaan, arsip dan museum, sebagai berikut yaitu berbagi sumber, meningkatkan kepedulian, meningkatkan kesadaran publik dan akses terhadap sumber dan mendekatkan dengan pemakai dan komunitas.

1.    Berbagi sumber

Dengan bekerjasama, lembaga informasi memperoleh koleksi yang lebih lengkap dan pemakai yang lebih banyak. Perpustakaan dan museum brawijaya dianggap sebagai salah satu lembaga infrormasi yang harus mampu untuk berbagi sumber.

2.   Meningkatkan kepedulian

Dengan berbagai jalan; proyek akan menerima dampak pemasaran yang kuat dan menumbuhkan visibilitas seluruh mitra. Manfaat ini dapat diperoleh ketika perpustakaa dan museum saling bekerjasama dengan institusi lain.

3.   Meningkatkan kesadaran publik dan akses terhadap sumber

Kolaborasi dapat menyediakan kesempatan bagi perpustakaan, museum dan lembaga informasi yang bermitra untuk meningkatkan persepsi umum pada setiap institusi. Dengan  berkolaborasi, koleksi yang dimiliki dapat semakin lebih lua dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pemakai di perpustakaan dan museum brawijaya.

4.   Mendekatkan dengan pemakai dan komunitas

Kolaborasi juga membuka kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan komunitas dan seluruh mitra yang berpartisipasi. Di perpustakaan dan museum brawijaya kolabarasi telah dilakukan dalam tingkat internal kodam V brawijaya. Sehingga diharapkan dapat mendekatkan pemakai dengan koleksi yang dimiliki.


BAB III

PENUTUP

 

A.   Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan kolaborasi dan konvergensi lembaga informasi (perpustakaan, arsip dan museum) studi pada perpustakaan militer dan museum brawijaya ditemuka beberapa hal yaitu :

1.    Kolaborasi dan konvergensi di Perpustakaan militer dan museum brawijaya telah dilakukan dalam lingkup internal Kodam V brawijaya. Kolaborasi adn konvergensi dilakukan dalam bentuk sinergi antara benda-benda yang ada di museum dan buku tentang buku tersebut ada di Perpustakaan militer.

2.    Ditemukan tantangan dalam kolaborasi dan konvergensii di Perpustakaan militer dan museum brawijaya secara luas bersifat institusional atau profesional, mengatasi keberadaan strukrur institusional (seperti akses terhadap koleksi), untuk menyesuaikan diri dengan perubahan identitas dan nilai profesional, dan mengatasi hambatan komunikasi dan bahasa, infrastruktur, organisasi serta koleksi dan pengajaran

3.    Manfaat yang diperoleh dari kolaborasi dan konvergensi perpustakaan militer dan museum brawijaya yaitu berbagi sumber, meningkatkan kepedulian, meningkatkan kesadaran publik dan akses terhadap sumber dan mendekatkan dengan pemakai dan komunitas.

B.   Saran

1.    Perlunya kolaborasi dan konvergensi di luar intitusi Kodam V Brawijaya, seperti kolaborasi dan konvergensi dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Malang. Sehingga dari segi koleksi,berbagi sumber menyebabkan koleksi yang ada semakin beragam dan dapat memenuhi kebutuhan pemakai.

2.    Perlunya peningkatan kapasitas sumber daya melalui pendidikan formal dan juga pelatihan keahlian dalam kolaborasi dan konvergensi lembaga informasi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Duff, W. M., Carter, J., Cherry, J. M., MacNeil, H., & Howarth, L. C. (2013). From Coexistence to Convergence: Studying Partnerships and Collaboration among Libraries, Archives and Museums. Information Research: An International Electronic Journal, 18(3), n3.

IFLA.2014. About LAMMS dalam https://www.ifla.org/about-lamms diakses pada 16 Oktober 2017 pukul 21:24 WIB

Mahmud, Shahed.      2014.History and Reconvergence of (GLAM) dalam https://www.academia.edu/8344798/History_and_Re-convergence_of_Galleries_Libraries_Archives_Museums_GLAM_-_A_systematic_literature_review diakses pada 17 Oktober 2017 pukul 03:00 WIB

Royjavanis. 2016.Wisata Museum Brawijaya di Kota Malang Dalam http://wisata-tanahair.com/2016/07/wisata-museum-brawijaya-di-kota-malang.html diakses pada 17 Oktober 2017 pukul 05:26 WIB

Sulistyorini, Dyah (2015). “Menggagas kolaborasi perpustakaan, arsip dan museum”dalam http://www.antaranews.com/berita/481903/menggagas-kolaborasi-perpustakaan-arsip-dan-museum diakses pada 16 Oktober 2017 pukul 20:00 WIB

Susantio,Djulianto.2014.“Perpustakaan, Arsip dan Museum” Dalam https://museumku.wordpress.com/2014/08/27/perpustakaan-arsip-dan-museum/ diakses pada 18 Oktober 2017, pukul 16:01 WIB

Yarrow, A., Clubb, B., & Draper, J. L. (2008). Public libraries, archives and museums: Trends in collaboration and cooperation. The Hague: International Federation of Library Associations and Institutions.

Yudhawasthi, C. Musiana (2014). “Kolaborasi Perpustakaan, Lembaga Arsip & Museum: Sebuah Upaya Membangun Lembaga Informasi yang Memorable & Experience” Dalam https://www.academia.edu/8945661/Kolaborasi_Perpustakaan_Lembaga_Arsip_and_Museum_Sebuah_Upaya_Membangun_Lembaga_Informasi_yang_Memorable_and_Experience diakses pada 17 Oktober 2017, pukul 03:00 WIB

Zorich, Diane M..2008. “Library, Archive and Museum Collaboration at Yale University A meeting to further dialog and collaboration among libraries, archives and museums” Dalam ydc2.yale.edu/node/393/attachment diakses pada 17 Oktober 2017, pukul 04:00 WIB