Contoh karya Poster

Berikut Penulis bagikan pengalaman mengikuti Lomba Master Poster Competition 2016 (MPCOM) yang diselenggarakan oleh Himamasta Universitas Brawijaya. Lomba poster ini merupakan serangkaian acara lomba poster yang pernah penulis ikuti, namun hasilnya belum menunjukkan dan tidak sesuai dengan harapan penulis. Penulis gagal mendapatkan nominasi pemenang. Namun, tak mengapa beberapa hal yang dapat diambil dalam mengikuti lomba akan penulis bagikan sebagai berikut :

Image_0810997

Gambar 1. Poster lomba MPCOM 2018

Berikut hasil karya poster penulis buat menggunakan perangkat lunak corel draw, mengambil tema “Indonesia is hidden paradise” --

  “When you don’t want to leave your comfort area,
You will never find something amazing that has”
Now, Let’s explore your hidden paradise !!

Indonesia is Hidden Paradise fix

Berikut hasil pemenang MPCOM 2016 :

juara 1 Dien Fahmi Huda Ponorogo 2

Juara 1 MPCOM “ Dien Fahmi Huda Ponorogo 2”

juara 2 jangan mau diperbudak tikus (hasto_umy)

Juara 2 MPCOM 2016 “jangan mau diperbudak tikus (hasto_umy)”

juara 3 Reza-Podo-1173022612960002

Juara 3 MPCOM “Reza-Podo-1173022612960002”

favorit

Juara favorit

Berdasarkan beberapa poster di atas dapat diambil hikmah, yaitux :

  • Poster yang dibuat mencerminkan konten yang ingin diangkat, gunakan satu objek atau gambar utama, beri keterangan 1 sampai 3 kalimat penjelas dalam poster
  • Gunakan konsep yang membuat orang tertarik melihat poster anda dan ingin melihatnya lebih lama
  • Gunakan pula font yang memiliki keterbacaan jelas, kombinasi warna yang tak berlebihan

Contoh desain Sayembara Maskot

Berikut penulis bagikan contoh desain maskot yang diajukan untuk SAYEMBARA MASKOT UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2015. Penulis turut berpartisipasi, dan hasilnya maskot penulis tidak masuk dalam finalis. Penulis juga bagikan maskot pemenang dari sayembara maskot UB. Pembaca dapat menilai kekukurangan dan kelebihan maskot yang penulis buat dan maskot pemenang sayembara. Penulis dalam membuat maskot ditemani oleh tim Apollo Creative yaitu Rizka Fauizah sebagai Desainer dan Ilustrator, Yuli Trisnawati sebagai penulis, dan Gani Nur Pramudyo atau saya sediri sebagai ideator. Berikut desain maskot yang kami buat :

clip_image002

Pemilihan Ayam Golden Pheasant sebagai maskot Universitas Brawijaya dengan alasan bahwa dari sekian binatang yang dibudidayakan di Universitas Brawijaya Ayam Golden Peasant merupakan yang paling unik versi tim Apollo C. Ayam yang berasal dari Tibet, Cina ini didatangkan dari Solo sekitar beberapa minggu yang lalu. Daya tarik ayam Golden Pheasant ini ada pada keunikan bulunya yang beraneka warna yang jarang dimiliki ayam jenis lain. Penangkaran ayam ini ada di sebelah gedung Widyaloka, dengan satu sangkar dihuni oleh 4 ayam. Pemilihan warna yang digunakan pada maskot diambil dari setiap warna dari logo Universitas Brawijaya, dengan tujuan semakain memperkuat identitas Universitas Brawijaya.

DESKRIPSI MASKOT

1. AYAM

Ayam mempunyai filosofi tentang kepemimpinan, dimana ayam selalu menjadi pionir yang membangunkan manusia ketika matahari terbit. Mempunyai makna bahwa Universitas Brawijaya akan terus mencetak pionir-pionir generasi bangsa yang mempunyai daya saing di tingkat dunia.

2. ATRIBUT

Tongkat sebagai pegangan yang membantu dalam melangkah, dengan 3 buah obor di atasnya mempunyai makna bahwa Universitas Brawijaya sebagai sarana menimba ilmu selalu berpedoman terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Mayarakat. Dengan api yang membara melambangkan kobaran semangat dari seluruh civitas akademika Universitas Brawijaya yang selalu mengedapankan prestasi dan siap bersaing.

Dresscode yang digunakan maskot berupa kemeja, dasi, dan setelan jas mempunyai makna elegan, rapi, gentlement, mempunyai jiwa enterpreneur sehingga layak menjadi world class. Universitas Brawijaya bukan hanya mencetak lulusan yang berprestasi, juga mencetak lulusan yang mempunyai etika tinggi baik dari segi perilaku maupun dari tata krama berpaikan. Warna hitam pada pakaian melambangkan kekuatan, formalitas, dan perlindungan dan dimiliki Universitas Brawijaya.

Jubah yang dipakai maskot mempunyai motif batik dengan corak dedaunan, yang menyimbolkan tanaman sebagai sumber kehidupan dan paru-paru dunia. Universitas Brawijaya selalu menggencarkan semangat Go Green pada lingkungan kampus dan penyelenggaraan berbagai kegiatan yang mengutamakan Go Green. Sedangkan Batik sebagai salah satu identitas bangsa dalam keaneka ragaman budaya. Warna jubah sendiri juga diambil dari warna pada logo Universitas Brawijaya, yaitu biru yang mempunyai makna kepandaian, kreatifitas, loyalitas, kedamaian.

Scraft yang dikenakan ayam di leher, mencerminkan sosok Bre Wijaya sebagai raja di Kerajaan Majapahit, yang nama beliau adalah asal-usul dari Universitas Brawijaya. Dengan memakai scarf yang mempunyai makna bahwa mahasiswa Universitas Brawijaya diharapkan mampu menjadi seorang pemimpin seperti raja setelah menempuh pendidikan. Pemimpin yang diharapkan adalah pemimpin yang mempunyai jiwa sosial tinggi, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur dan berjiwa ksatria. Mewujudkan slogan Universitas Brawijaya, yaitu “Join UB, Be The Best”. Warna kuning yang dipakai pada scraft melambangkan energi sosial, kerja sama, kebahagiaan, kehangatan, kebijaksanaan.

3. POSE

Dengan pose dan tatapan mata yang sedemikian mencerminkan sikap yang gagah berani dalam menghadapi segala tantangan, serta optimis dan bertanggung jawab.

MAKNA MASKOT

Maskot Ayam yang diberi nama Rockie merupakan akronim dari go gReen, wOrld Class, Kompetitif, Inovatif, dan Enterpreneur, kesemuanya merupakan ciri khas dari Univesitas Brawijaya. Maskot tersebut mempunyai makna bahwa Universitas Brawijaya bagaikan seorang pemimpin yang mampu melindungi, mencetak lulusan yang berprestasi dan beretika tinggi, yang mempunyai daya saing dan siap menghadapi tantangan zaman. Kesemuanya dilaksanakan berdasarkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan penuh rasa semangat membara bagaikan api, dan bertanggung jawab.

By : APOLLO C

Sedangkan berikut ini maskot pemenang sayembara maskot UB, dengan nama “Brone” Brawijaya Number One :

BRONE-284x360

Maskot UB bernama BRONE, yang merupakan singkatan dari “Brawijaya Number One”. BRONE memiliki konsep sebagai robot pendamping yang menjadi pemandu informasi. Dia mampu belajar dan terus berkembang. Makna maskot UB adalah sebagai berikut:

  • Bentuk Robot, bermakna inovasi, juga mewakili wujud yang kuat dan kooh, sehingga mampu mewakili konsep kekuatan daya saing.
  • Dominasi warna biru, kuning, silver, dan hitam, masing-masing mewakili makna kepercayaan, kebahagiaan, modernisasi, dan elegan (Sumber : https://ub.ac.id/id/about/ub-brand/)

Contoh Logo Gerakan Nasional Cinta Sejarah

Berikut penulis bagikan sebuah logo yang diajukan untuk lomba logo gerakan cinta sejarah :

logo 6

Berikut penjelasan tentang logo Gerakan Nasional Cinta Sejarah :

A. Konsep Logo : Ikon dan Tulisan

Hal ini dimaksudkan adanya penekanan penjelasan singkat mengenai logo itu sendiri agar dapat dengan mudah dipahami oleh semua orang yang melihat.

B. Visi dan Misi

Visi :

Membangkitkan rasa cinta masyarakat terhadap sejarah nasional sebagai salah satu indikator identitas bangsa.

Misi :

1. Memperingati hari sejarah nasional dengan melaksanakan upacara di berbagai daerah maupun instansi.

2. Memaknai peringatan hari sejarah nasional dengan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk membangun nasionalisme.

3. Menanamkan pendidikan sejarah sejak dini kepada generasi muda sebagai penerus bangsa, salah satunya dengan penyelenggaraan wisata sejarah.

4. Meningkatkan eksistensi instansi pelestarian sejarah, seperti museum dan perpustakaan yang dapat menarik minat masyarakat dalam mempelajari sejarah nasional.

5. Mensinergikan peran stakeholder, civil society dan private sector dalam mewujudkan gerakan cinta sejarah nasional.

C. Deskripsi Logo :

  1. Belalang

Belalang merupakan salah satu jenis hewan purba yang masih ada sampai sekarang (nationalgeographic.co.id). Dalam logo ini, belalang menyimbokan sejarah yang harus dilestarikan sampai kapanpun. Karena sejarah merupakan identitas dimana asal usul dari apa yang ada sekarang.

  1. Bagian tubuh belalang

· Badan belalang

Badan belalang terdiri dari 5 segmen, yang mana sebagai symbol landasan idiil bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Dimana dalam melestarikan sejarah dan mewujudkan rasa cinta sejarah Indonesia harus berdasarkan pacasila

· Kaki Belalang

Kaki belalang ada 6 yang menyimbolkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang menghargai sejarah, yang cinta akan sejarah, juga bangsa Indonesia adalah bangsa yang menghargai perbedaan rakyatnya, dan menjalin kerukunan umat beragama. Dimana ada 6 agama yang diakui di Indonesia, yaitu Islam, Hindu, Kristen, Katholik, Budha, dan Konghuchu.

  1. Buku

Buku merupakan symbol bahan pustaka yang berisi sumber informasi, dimana buku dapat berfungsi sebagai alat perekam sejarah berbentuk tercetak yang mudah diakses oleh semua orang. Meskipun kini media elektronik sudah semakin marak digunakan karena tingkat efisiensi dan efektifitasnya tinggi, namun buku sampai kapanpun masih tetap digunakan, karena buku merupakan sumber informasi yang tidak menggunakan media dalam mengaksesnya. Melalui tulisan pula, sejarah seseorang, sejarah bangsa direkam untuk dikenang. Pramoedya Ananta Toer mengungkapkan “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah (Rumah Kaca, h. 352)”

  1. Manuscript

Manuscript adalah simbol benda bersejarah, hal ini dimaksudkan bahwa bukan hanya tokoh, peristiwa yang wajib dihargai, dihormati dan diteladani, melainkan juga benda-benda bersejarah yang patut dijaga kelestariannya oleh semua orang. Karena tanpa sejarah, masa sekarang tidak pernah dirasakan dan masa depan tidak akan pernah raih.

  1. Warna Orange

Warna orange pada belalang mempunyai makna hangat dan bersemangat. Warna ini merupakan symbol dari petualangan, optimisme, percaya diri dan kemampuan dalam bersosialisasi. Sehingga diharapkan masyarakat Indonesia dengan semangat Pancasila dan rasa kekeluargaan yang tinggi dapat terus mencintai sejarah sebagai bagian dari hidupnya.

  1. Tulisan

Tulisan : Gerakan Nasional Cinta Sejarah merupakan identitas lambang.

  1. Warna Biru

Warna biru pada tulisan “Gerakan Nasional” mempunyai makna kekuatan. Diharapkan masyarakat Indonesia saling bersatu, saling menghargai dan menghormati, untuk mewujudkan sila ketiga Pancasila dalam mengamalkan Gerakan Nasional Cinta Sejarah.

  1. Warna Merah

Warna merah pada tulisan “Cinta Sejarah” mempunyai makna keberanian, aktif dan symbol energy. Dimana dalam mencintai sejarah bangsa haruslah tanpa rasa takut, tanpa rasa malu membanggakannya. Karena sejarah bangsa ada untuk dilestarikan rakyatnya, sebelum bangsa lain melestarikannya.

“JAS MERAH, jangan sekali-sekali melupakan sejarah”.(Soekarno)

“Membaca sejarah adalah cara menemukan harapan. Harapanlah yang membuat kita rela dan berani melakukan kebajikan-kebajikan hari ini, walaupun buah kebajikan itu akan dipetik oleh mereka yang baru akan lahir esok hari.” (Muhammad Anis Matta, Gelombang Ketiga Indonesia)

Kilas Balik Capaian dan Keinginan Menjadi Seorang Dosen

Berikut saya bagikan esai saya Kontribusiku Bagi Indonesia: Kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat/lembaga/instansi/ profesi komunitas saya yang saya tulis sebagai persyaratan pendaftaran LPDP Afirmasi 2018. Tips yang dapat saya berikan yaitu tulis esai sesuai kontribusi yang anda telah lakukan, mulai dari hal-hal kecil yang bisa berdampak pula bagi Indonesia. Nantinya essai yang anda buat akan anda pertanggungjawabkan apabila anda lolos pada tahap seleksi subtansi wawancara. Pengenalan diri anda dan pertanyaan wawancara anda tidak jauh dari essai yang anda tulis. Semoga teman-teman lolos LPDP tahun berikutnya

Saat ini saya telah menyelesaikan studi Sarjana (S1) Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) dengan beasiswa Bidikmisi yang diberikan oleh pemerintah. Studi S1 Ilmu Perpustakaan saya pilih karena merupakan jurusan yang tidak begitu banyak dilihat, dan bahkan seringkali “dipandang sebelah mata”. Namun ketika saya berada pada studi ini, belajar, kuliah, bertemu dosen dan teman, menjadikan wawasan dan cakrawala pengetahuan saya terbuka. Perpustakaan tidak hanya sebatas “mengelola buku”, tetapi lebih berkembang yaitu, “tata kelola informasimenekankan pada aspek tatakelola, dokumentasi, manajemen maupun pelayanan publik pada lembaga dokumenter bukan hanya perpustakaan, tetapi semua lembaga yang memiliki dokumen.

Banyak hal saya raih ketika masa perkuliahan, termasuk beberapa pengalaman saya seperti Student Employment bagian pengolahan koleksi di Perpustakaan Universitas Brawijaya. Kemudian Magang di Perpustakaan Universitas Negeri Malang, Student Employee di Unit Laboratorium Perpustakaan dan Arsip (ULPA) FIA UB, serta pengabdian masyarakat di Perpustakaan SMPN 6 Malang, Perpustakaan SDN Bandungrejosari 2 Malang dan TBM Teras Baca Kota Malang.

Salah satu prestasi saya yaitu Finalist of Liblicious Epicentrum 2017 FIKOM UNPAD bertema “Management development in Museum”. Dalam tema tersebut, saya dan kedua rekan saya mengeksplorasi konsep pengembangan perpustakaan sebagai ruang publik agar mampu diterapkan sebagai pengembangan museum. Kami mengusung konsep, “Museum for Us” dengan menawarkan enam program diantaranya space for us, open volunteer, museum keliling, intermuseum loan, user of experience dan rembug santai, program itu ditujukan untuk Museum Sonobudoyo. Kami menuju final dan acara bertempat di UNPAD Jatinangor. Sempat terpikir bagi kami untuk mengundurkan diri, karena tidak mempunyai dana. Namun kami tetap berupaya, hingga terbuka jalan, yaitu prodi yang membantu kami meminta dana ke fakultas. Alhamdulillah, kami berangkat dengan persiapan apa adanya, karena waktu yang habis untuk menyusun proposal pengajuan dana. Hasilnya, gagasan kami mendapatkan peringkat 6 tingkat nasional. Pengalaman dari lomba tersebut kian memperkuat, memperteguh dan mempertegas saya untuk berupaya mendalami terkait bidang keilmuan “Ilmu Perpustakaan”.

Saat ini saya aktif menjadi Student Employee (SE) di ULPA FIA UB bagian Koordinator Layanan Pengguna. ULPA sebagai pusat sumber pembelajaran untuk seluruh sivitas akademika (Smart People). Pada awalnya, ULPA lebih dikenal dengan ruang baca, kemudian berkembang hingga dikenal dengan nama Fadel Muhammad Resource Center. Secara resmi namanya berganti menjadi ULPA pada akhir Mei 2018 berada di bawah Governance Laboratory FIA UB. Saya selama lebih dari satu tahun menjadi bagian dari ULPA, baik sebagai volunteer maupun SE, serta mengikuti beberapa kegiatan yang diselengarakan di dalamnya. Saya banyak belajar terkait keilmuan “Ilmu Perpustakaan” dan mempraktikan ilmu yang telah didapat dari bangku perkuliahan di ULPA. Saya banyak menerima pembelajaran dari Pak Stefanus (Ketua ULPA), Pak Hendra (Sekretaris), Mbak Emi (Staf), Rekan magang, SE, Student Volunteer, Smart People maupun semua pihak yang terkait dalam pengembangan ULPA dan keilmuan saya.

ULPA masih dianggap menjadi “tempat penyimpanan buku” dan “tempat baca”, tidak hanya ULPA saja, tetapi hampir semua perpustakaan dianggap demikian. Ironis memang, ketika banyak orang menganggap perpustakaan demikian, tak seperti apa yang dikatakan oleh Rubin (2016: 1-14) yang menyebutkan bahwa perpustakaan merupakan infrastruktur pengetahuan yang terdiri dari komponen informasi, rekreasi, pendidikan dan budaya yang mendukung pemenuhan kebutuhan masyarakat yang dilayani. Infrastruktur pengetahuan itu dipandang sebagai sebuah proses, perangkat, jaringan, media industri dan institusi yang memberikan sumber informasi terpercaya, menyediakan banyak materi dan layanan serta akses melalui antarmuka ke sumber daya di seluruh dunia. Disini dapat kita petik bahwa perpustakaan disebut dengan “Knowledge Infrastructure”, namun sayangnya anggapan itu masih belum diketahui dan dipahami.

Selama saya belajar di ULPA sebagai volunteer, banyak hal yang saya dapat bersama rekan ULPA. Istilah volunteer sendiri muncul ketika ada inovasi dari Pak Hendra dan saya melihat beberapa permasalahan yang dihadapi oleh ULPA, seperti adanya anggapan “ruang baca” dan tak adanya “program literasi informasi” yang melibatkan smart people. Kemudian dicoba untuk open recruitmen volunteer batch 1 pada 15 September 2016 yang diikuti oleh 11 mahasiswa ilmu perpustakaan termasuk saya, sedikit banyak berpengaruh pada pengembangan ULPA saat ini. Terdapat banyak program yang berkembang dan masih terus berjalan di ULPA seperti User of The Month, Student Volunteer (SV), User Education, Bedah Buku dan Bincang Santai. Program ULPA ini merupakan hasil dari ide dan gagasan seluruh sumber daya manusia (SDM) ULPA. ULPA ke depannya saya yakin akan bertumbuh dan berkembang lebih baik, karena ditunjang SDM yang berkualitas. Tidak hanya dari segi program, tetapi juga beberapa produk “kemas ulang informasi” dihasilkan seperti infografis, sinopsis,resensi dan artikel. Tidak hanya program dan produk yang dihasilkan, sekarang ini ULPA pun berusaha memberikan jasa pengembangan lembaga dokumenter “Lab Digital”. Lab digital bertujuan untuk mengembangkan lembaga dokumenter pada aspek pemanfaatan teknologi informasi Kedepannya, Lab digital ini tidak hanya ditawarkan secara profit, tetapi juga nirlaba dalam rangka mengembangkan TBM.

Berbekal keilmuan, pengalaman, serta keahlian yang saya kuasai, saya berkeinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang Magister (S2) Teknologi Informasi untuk Perpustakaan Institut Pertanian Bogor. Saya ingin fokus dan lebih ahli dalam bidang keilmuan saya dan mengaplikasikannya kepada masyarakat, sehingga dapat berguna dan bermanfaat. Ada banyak hal yang belum saya tahu, belum saya gali, pun belum saya terapkan di masyarakat terkait dengan keilmuan saya. Namun dengan perlahan, saya mulai untuk menerapkan dan mengaplikasikan ilmu saya di masyarakat dalam bentuk pengabdian masyarakat. Bila saya diberikan kesempatan untuk menerima beasiswa LPDP Afirmasi ini, saya ingin menentukan peran sebagai seorang dosen pada sebuah institusi pendidikan tinggi.Saya ingin menjadi seorang dosen, karena dosen merupakan sebuah profesi bernilai tinggi. Peran dosen bukan hanya mentransfer pengetahuan tetapi juga nilai-nilai luhur, agar mahasiswa unggul secara akademik maupun mengakar pribadi yang berintegritas. Dosen mampu melahirkan manusia-manusia berkualitas, karena itu saya ingin menjadi seorang dosen. Saya ingin mengajar dan memberikan apa yang telah saya peroleh kepada individu dan masyarakat yang mau belajar dan mempraktikannya kembali kepada masyarakat, baik di institusi perguruan tinggi maupun acara pelatihan, forum diskusi, seminar dan workshop. Saya juga ingin menjadi konsultan untuk membantu mengembangkan lembaga dokumenter maupun TBM, sehingga lembaga tersebut dapat mewujudkan perannya sebagai sebuah infrastruktur pengetahuan yang mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan bagi bangsa ini.

1

Rencana Studi Magister IPB

Saya ingin melanjutkan studi pada Magister Teknologi Informasi untuk Perpustakaan Institut Pertanian Bogor (IPB) karena relevan dan linier dengan studi sarjana yang telah saya pilih yaitu Program Studi Ilmu Perpustakaan, Universitas Brawijaya. Saya memilih melanjutkan studi pada IPB karena IPB merupakan salah satu kampus terbaik di Indonesia, menempati peringkat 4 pada pemeringkatan webometric universitas dalam cakupan Indonesia bulan januari 2018. Selain itu, IPB memiliki repositori institusi yaitu, “Bogor Agricultural University Scientific Repository” memuat karya ilmiah sivitas akademika, yang menempati urutan 1 pada pemeringkatan webometric repositori institusi cakupan Indonesia bulan januari 2017. Hal ini membuat saya semakin tertarik untuk melanjutkan studi magister di IPB.

Mata kuliah pada studi ini terdiri dari mata kuliah Sekolah Pascasarjana (4 SKS), mata kuliah mayor Magister Teknologi Informasi untuk Perpustakaan (25 SKS), dan mata kuliah Tugas Akhir (10 SKS). Mata kuliah tersebut yaitu manajemen perpustakaan, manajemen teknologi informasi, organisasi jasa dan informasi, perspektif sains informasi, informetrika, metode penelitian, perpustakaan digital, sistem perpustakaan terpadu, kolokium, proposal tesis, publikasi ilmiah, tesis, bahasa inggris (semua semester) dan seminar (tugas akhir). Pada studi ini, saya ingin menyelesaikannya tepat waktu atau selama dua tahun. Harapannya saya dapat untuk segera berperan untuk dapat memberikan kontribusi bagi tujuan pembangunan berkelanjutan Indonesia, serta memperdalam keilmuan bidang ilmu perpustakaan yang dapat diaplikasikan di seluruh lembaga dokumenter di Indonesia.

1

Ketertarikan saya pada studi ini karena berada bidang teknologi pada Departemen Ilmu Komputer menjadi ciri khas tersendiri bagi keilmuan, “Ilmu Perpustakaan” yang saya telah dapatkan. Saya pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Sistem Otomasi Perpustakaan, mata kuliah Basis Data di minat Perpustakaan dan Arsip Program Vokasi Universitas Brawijaya. Selain itu, saya pernah menjadi asisten peneliti pada penelitian komparasi skema metadata sistem otomasi perpustakaan dan komparasi skema metadata repositori institusi, dengan melakukan penelitian terkait repositori institusi, serta penelitian skripsi saya mengenai interoperabilitas skema metadata repositori institusi, menjadikan saya semakin yakin untuk memilih studi pada IPB.

Saya memiliki keinginan untuk meneliti dan mengkaji lebih mendalam terkait dengan interoperabilitas metadata sistem otomasi dan repositori institusi pada lembaga dokumenter. Interoperabilitas metadata yang dimaksud bertujuan untuk mengetahui, menganalisis dan mendeksripsikan kemampuan sistem otomasi dan repositori institusi untuk dapat saling berbagi dan bertukar data, sehingga masing-masing metadata yang dimiliki oleh lembaga dokumenter dapat saling terintegrasi dalam katalog induk (union catalog). Union catalog akan mempermudah dalam proses temu kembali. Hal ini didasari bahwa lembaga dokumenter memiliki dan menggunakan perangkat lunak ataupun metadata yang beragam sesuai dengan koleksi yang dimiliki, sehingga perlunya upaya untuk interoperabilitas metadata.

Kegiatan yang akan dilakukan selama di luar perkuliahan, saya tertarik untuk menjadi volunteer di Perpustakaan Departemen Ilmu Komputer, sebagai langkah mengembangkan dan mengasah keilmuan saya selama perkuliahan. Saya juga ingin melakukan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan sekitar, untuk membantu mengembangkan perpustakaan. Tidak hanya itu, saya juga berusaha untuk membuat artikel ilmiah untuk dipublikasikan terkait keilmuan saya, agar bermanfaat bagi seluruh pihak.

Tujuan akhir dari karir saya yaitu bisa bermanfaat dan berguna bagi masyarakat dengan menjadi pengajar dan pendidik, sesuai keinginan saya menjadi seorang dosen dan pengamat di bidang “Ilmu Perpustakaan”. Nantinya saya mampu mendidik dan mengajarkan banyak hal terkait keilmuan saya, melahirkan pribadi berkualitas dan mempraktikan apa yang sudah saya dapat bagi masyarakat.

Jurusan S2 Ilmu Perpustakaan di Perguruan Tinggi Indonesia


Menjadi mahasiswa Perpustakaan dan Sains Informasi (Library and Information Science) bukan perkara gampang dan sulit, melainkan menjadi sebuah identitas dan tantangan tersendiri bagi calon mahasiswa yang akan menempuh studi ini. Identitas berarti kita akan belajar bagaimana studi ini diharapkan mampu melahirkan Konsultan Informasi/ Pengetahuan, Analisis Informasi/ Pengetahuan, Information spesialist, Spesialis Pustakawan (sekolah, publik, akademik,Khusus); Spesialis Arsiparis (pemerintah, organisasi,bisnis), Spesialis Rekod (sektor publik dan privat). Tantangan, berarti kita akan mengadapi sebuah dilema ketika pertama masuk studi ini, anggapan besar "penjaga perpus/buku" masih melekat pada sebutan masyarakat. Kesadaran dan kesengajaan masih meremehkan studi ini nantinya akan sering dilontarkan, namun berbesar hatilah ketika anda benar-benar masuk studi ini, identitas anda akan terlihat ketika memasuki dunia kerja, peran anda akan sangat dihargai dan dibutuhkan, seperti yang disampaikan di atas. 

Bagi anda yang menginginkan untuk memperdalam studi ini, anda dapat memilih beberapa program studi magister yang dapat ditawarkan Universitas berikut berdasarkan hasil pengumpulan data yang dilakukan penulis sebagai berikut :
1. Magister Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Indonesia
Studi magister ilmu perpustakaan dan informasi di UI berada pada naungan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Studi ini memiliki ciri khas tersendiri, selain itu terdapat peminatan tersendiri antara peminatan perpustakaan dan peminatan arsip. Beberapa mata kuliah yang ditempuh seperti Masyarakat Informasi, Program Automasi Lembaga Informasi, Manajemen dan Preservasi Pengetahuan, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Layanan Sumber Daya Informasi, Metode Penelitian Informasi, Teori Kebudayaan, organisasi informasi, manajemen arsip*, seminar tesis, manajemen sumber daya informasi, manajemen dan budaya perpustakaan, audit dan kebijakan informasi dan tesis. Minat kearsipan pada dilaksanakan semester 3 seperti Manajemen dan Preservasi Arsip Elektronik*, Manajemen Retensi Arsip*, Pengorganisasian dan Pengawasan Dokumen.
Pendaftaran Mahasiwa Baru : http://penerimaan.ui.ac.id/

2. Magister Teknologi Informasi untuk Perpustakaan Institut Pertanian Bogor
Studi magister MTIP IPB berada pada naungan Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam dan berada Departemen Ilmu Komputer. Berbeda dengan UI yang berada di FIB, MTIP IPB lebih menekankan pada aspek teknologi informasi pada mata kuliah yang nantinya akan diambil. Beberapa mata kuliah tersebut diantaranya : manajemen perpustakaan, manajemen teknologi informasi, organisasi jasa dan informasi, perspektif sains informasi, informetrika, metode penelitian, perpustakaan digital, sistem perpustakaan terpadu, kolokium, proposal tesis, publikasi ilmiah, tesis, bahasa inggris (semua semester) dan seminar (tugas akhir). 
Pendaftaran Mahasiswa Baru (PMB) IPB: http://pmbpasca.ipb.ac.id/
Awal perkuliahan : dimulai pada bulan September

Beberapa program Magister Ilmu Perpustakaan lain juga terdapat pada UGM (Magister Manajemen Informasi dan Perpustakaan),Magister Ilmu Perpustakaan Unpad, magister Ilmu Perpustakaan UIN Suka. Namun, dari beberapa magister tersebut, hanya program studi Magister Ilmu Perpustakaan UI dan MTIP IPB yang direkomendasikan oleh Pengelola Beasiswa LPDP 2018, sehingga penulis hanya menjelaskan detail dari masing-masing universitas UI dan IPB.


Liblicious Epicentrum Unpad 2017 : sebuah pengalaman

Jatinangor – Lomba liblicious epicentrum unpad 2017 bertema “management development in museum” dengan bentuk proposal. Ketika tim saya“Change’s Team mengikuti lomba ini banyak hal yang didapat oleh saya dan semua peserta epicentrum. Pengalaman, teman baru dan ide-ide baru pun muncul. Tidak hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi mereka yang mampu berkontribusi untuk museum indonesia yang lebih baik kedepannya. Dalam Lomba ini terdapar 10 tim yang menjadi finalis diantaranya dari tim saya change’s team dari UB, Trigatra, tanginas, dipo 45, archival b, imajinarium, dll.

IMG20171114112751
Masing-masing tim memiliki ide dan gagasan yang unik dalam pengembangan museum yang lebih baik. Adapun museum yang menjadi sasaran pengembangan ide adalah museum nasional, museum sonobudoyo dan museum sri baduga. Ide tim saya yaitu tentang bagaimana agar museum itu banyak dikunjungi oleh pemakai (masyarakat)  dengan cara melibatkan masyarakat itu sendiri untuk mengembangkan museum.
IMG_20171116_212023_HDR
Ketika ditanya saya, kami atau Change’s Team ada di urutan berapa? maka kamipun akan menjawab dengan bangga kami berada di urutan 6, lantas bagaimana dengan ide kami kalo tidak juara apakah cukup berhenti atau lanjut ? pertanyaan yang menarik. thank so much to my patners Zendy Titis Dwi Andini dan mbak Junita Dhevi Sagita dan LO kami yang baik hatinya Rizky Ayuning Anarima Putri.
IMG_20171113_123045_HDR

Pemilihan Bacaan Anak dan Remaja

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Di era perkembangan teknologi informasi saat ini, bentuk, bahan dan jenis sumber informasi (bacaan) menjadi semakin beragam dan berkembang. Hal yang penting dalam bacaan sebenarnya adalah sasaran yang dituju (pemakai). Untuk siapa bacaan tersebut dibuat, mengapa, dan bagaimana. Sasaran bacaan yang dituju seperti anak-anak, remaja, dewasa dan lansia menjadi salah satu aspek penting. Jika dilihat perkembangan minat baca anak di Indonesia dilansir di situs antaranews.com maka dapat dilihat bahwa  :

Kalau dilihat angka-angka dan data-data lain sering kali memang fakta angka di atas kertas kemampuan membaca anak-anak Indonesia bahkan dibandingkan dengan negara lain seperti Aseanpun masih sangat jauh," tuturnya.Ia membandingkan masyarakat Eropa atau Amerika khususnya anak-anak dalam setahun bisa membaca buku hingga 25-27 persen buku. Kemudian juga di Jepang bisa mencapai 15-18 persen buku per tahun."Sementara di Indonesia jumlahnya hanya mencapai 0,01 persen pertahun," ujar presenter kawakan Mata Najwa tersebut. (Kaha:2017)

Dari temuan di atas dapat disimpulkan bahwa minat baca anak Indonesia sangat rendah di banding negara lain. Beberapa penyebab rendahnya minat baca ini juga dipengaruhi oleh kurang pedulinya pembaca akan manfaat dari membaca itu sendiri. Lebih spesifik terkait ketersediaan bahan bacaan anak,  di Perpustakaan Umum Kota Malang sebagai penyedia kebutuhan informasi dan sumber bacaaan di Kota Malang, dilansir di beritajatim.com dijelaskan bahwa :

Demi meningkatkan minat baca warga Kota Malang, Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Malang siap untuk menambah koleksi buku di tahun 2016. Minat baca warga Kota Malang saat ini dianggap masih belum tinggi. Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Malang, Endang Soejatikah mengatakan, setiap tahunnya, pihaknya melakukan pengajuan penambahan buku antara 4 ribu hingga 6 ribu judul buku. Sedangkan peningkatan minat baca warga Kota Malang hanya 7 persen. (Ramadahan,2016)

Sementara untuk ketersediaan koleksi atau sumber bacaan dapat ditarik kesimpulan dan disajikan berdasarkan tabel di bawah ini :

Tabel 1. Jumlah koleksi buku di Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Malang (Ramadhan, 2016)

Jenis Buku

Jumlah Buku

Buku referensi

5.060

Buku umum

27.506

Buku untuk anak-anak

5.765

Buku di mobil keliling

2.713

Buku lain

1.775

Total/Jumlah Buku

42.819

Keterangan: Jumlah koleksi buku di Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Malang mencapai 42.819 buku, dengan rincian 26.155 judul buku yang terdiri dari 5.060 buku referensi, 27.506 buku umum, 5.765 buku untuk anak-anak, dan 2.713 buku di mobil keliling.

Dari data di atas dapat disumpulkan bahwa buku umum yang ada di Perpustakaan Kota Malang cenderung lebih banyak dibandingkan dengan buku anak-anak.  Poin pentingnya disini adalah buku bacaan untuk anak yang kurang mencukupi dan kurang diminati oleh anak-anak. Kurangnya diminati bacaan anak disini karena berbagai faktor salah satunya adalah pemilihan bacaaan untuk anak. Menurut Leonhardt (1997) dalam Auliawan (2013:5) beberapa hal yang harus diperhatikan saat pemilihan koleksi yang tepat guna untuk anak yaitu mencermati perkembangan selera membaca anak pemilihan bacaan anak, biasanya anak-anak lebih menyukai fiksi yang imajinatif atau realistis, menyediakan buku-buku yang alurnya melibatkan minat khusus anak, hampir semua anak menyukai buku-buku humor dan menyediakan buku yang dikenal anak-anak. Sehingga dapat ditarik kesimpulan pemilihan bacaan anak harus mengacu pada kebutuhan dan minat anak terhadap bacaan.

Minat baca anak di Indonesia terutama di malang selalu berurusan dengan ketersediaan koleksi anak dan pemilihan bacaan. Pemilihan bacaan yang tepat dianggap dapat menarik minat baca anak. Pemilihan bacaan anak yang tepat perlu beberapa syarat yang harus diperhatikan, sehingga bacaan tersebut menjadi bermanfaat bagi anak. Dengan  adanya latar belakang tersebut penulis ingin mengetahui lebih lanjut mengenai pemilihan bacaan-bacaan, sehingga penulis mengambil judul “Pemilihan bacaan anak dan remaja”.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana pemilihan bacaan untuk anak?

2.      Bagaimana tahapan perkembangan membaca berdasarkan umur?

3.      Bagaimana jenis bacaan anak berdasarkan umur?

C.    Tujuan

1.      Mengetahui pemilihan bacaan untuk anak.

2.      Mengetahui tahapan perkembangan membaca berdasarkan umur.

3.      Mengetahui jenis bacaan anak berdasarkan umur.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Memilih Buku untuk Anak

Lynch (1999:9-10) menjelaskan poin penting tentang pemilihan bacaan yaitu kualitas dan isi literatur. Sementara pemilihan bacaan anak meliputi know the child, know the books, Consider the Mode of Delivery. 8

1.      Kenali Anak

Guru dan Pustakawan yang baik cenderung mengenal murid mereka dengan baik. Sekarang dapat dipilih buku dengan topik tertentu dan ditulis pada tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Guru dan Pustakawan harus bisa mengumpulkan buku yang disukai dan bagaimana memperolehnya. Selain itu, Guru dan Pustakawan harus memiliki pemahaman umum tentang tingkat membaca dan mendengarkan siswa. Seringkali, kemampuan anak membaca dan mendengarkan pada tingkat yang berbeda, Anak-anak muda, khususny dapat mendengarkan dan lebih sulit memahami daripada yang bisa mereka baca dan pahami. Perbedaan ini adalah salah satu yang mengakomodasi Guru dan Pustakawan dengan membaca lebih banyak buku yang menantang dan memberikan pilihan bahan bacaan lebih mudah untuk pembacaan anak.

2.      Ketahui Buku

Guru dan pustakawan yang membaca buku anak-anak secara teratur, dapat mengenali dan mendapat informasi tentang buku yang baru diterbitkan yang kemungkinan besar akan dapat menarik minat anak-anak untuk membaca buku. Tentu saja, sangat sulit untuk membaca secara luas dan untuk dapat berbagi. Namun, tidak perlu membaca setiap buku yang dibaca siswa Anda untuk dipahami dengan baik dalam literatur anak-anak  ;Selain membaca buku, ada beberapa cara lain untuk mengenali buku. Anda dapat meminta informasi lebih lanjut tentang judul terkini, berbagi informasi tentang buku dengan kolega dan ulasan-ulasan buku.

Pertimbangan guru dan pustakawan dalam pemilihan bacaan anak adalah keterbacaan dan kerumitan konsepsi dari buku.

a)      Keterbacaan adalah perkiraan kesulitan teks berdasarkan kata-kata kosakatanya dan kata-kata yang tidak biasa) dan struktur kalimat (kalimat pendek dan sederhana versus kalimat yang panjang dan kompleks).

b)      Kesulitan konseptual berkaitan dengan ketepatan gagasan dan bagaimana gagasan ini muncul. Simbolisme, abstraksi, dan deskripsi panjang berkontribusi pada kompleksitas gagasan, sama seperti penggunaan kilas balik atau sudut pandang pergeseran menyumbang kompleksitas presentasi plot.

3.      Pertimbangkan Cara Penyampaian

Apakah buku ini dimaksudkan untuk pembacaan mandiri oleh anak-anak atau untuk membaca dengan suara keras oleh orang dewasa merupakan pertimbangan penting lainnya dalam memilih buku untuk anak-anak. Anak-anak dapat mendengarkan dengan baik komentar untuk buku yang terlalu sulit dibaca secara mandiri. Sebenarnya, guru yang baik sering memilih buku yang menantang untuk siswa mereka secara intelektual sehingga siswa dapat dibimbing dalam pengenalan karya sastra yang lebih mendalam.

 

B.     Tahapan perkembangan membaca

Ase S. Muchyidin  dalam Sudarsana (2010:5.17) mengemukakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memahami suatu bahan bacaan, antara lain:

1.    Terdapat sejumlah kata yang sama, mungkin arti atau maknanya berbeda apabila dikaitkan dengan konteks kalimat yang berlainan;

2.    Kalimat menunjukan suatu pengertian tertentu, apabila disertakan faktor intonasi dalam membacanya yang akan menunjukkan makna yang berlainan;

3.    Jika disertakan tanda-tanda baca akan mempertegas secara khusus pesan penulis yang harus dihayati oleh pembaca dalam mengartikan kalimat tersebut;

4.    Gabungan sejumlah kalimat dalam suatu paragrap atau alinea menunjukan suatu pengertian yang lebih luas dan terintegrasi;

5.    Pendekatan gaya penulisan, apakah induktif atau deduktif perlu dipahami dalam menemukan makna sajian;

6.    Kemampuan pembaca dalam menemukan kata kunci dalam suatu kalimat atau kalimat kunci dalam suatu alinea akan mempermudah pemahaman pembaca terhadap suatu bacaan;

7.    Tajuk yang disajikan, apakah merupakan judul baba tau subab merupakan rambuu-rambu awal yang harus digarisbawahi dalam menemukan makna suatu bacaan.

Maka dapat disimpulkan bahwa secara umum bacaan harus memenuhi beberapa hal-hal. Dengan memenuhinya suatu bacaan akan dapat memenuhi suatu kelayakan bacaan yang dapat dibaca. Disamping dapat menjaga kualitas bacaan yang akan dibuat atau diedarkan agar tetap berkualitas.

Kesesuaian usia dikemukakan oleh Ch. Euhler dalam sudarsana 2010 (2010:5.11) menunjukan lima fase, yaitu:

1.    Usia fantasi anak, umur 2 – 4 tahun,

2.    Usia dongeng, umur 4 – 8 tahun,

3.    Usia petualangan, umur 8 – 11/12 tahun,

4.    Usia kepahlawan, umur 12 -15 tahun, dan

5.    Usia liris dan romantis, umur 15 -20 tahun

Fase-fase usia tersebut menandakan tema atau judul yang sesuai untuk dijadikan bahan anak. Tema tersebut sangat tergantung pada berkembangan anak. Dan tingkat pendidikan yang telah ditempuh. Maka dari berkembangan dan pendidikan anak dapat ditentukan judul atau bahan bacaan yang sesuai dan layak untuk dibaca.

Menurut Chall, dalam Sudarsana 2010 (2010:5.19-5.21) memberikan bagan tahapan membaca, antara lain sebagai berikut.

1.      Tahapan 0 : prereading, pseudoreading (membaca)

Tahap ini dimulai pada anak usia 6 bulan sampai dengan 6 tahun, karakterestik dan kemampuan yang dicapai pada tahap ini adalah:

a.       Seseorang anak pada tahap ini berpura-pura bisa membaca;

b.      Menceritakan kembali cerita bila dia melihat buku yang dibacakan sebelumnya kepadanya;

c.       Mengenal abjad dan mulai mengucapkannya;

d.      Mengenali beberapa tanda;

e.       Menulis namanya sendiri,

f.       Bermain dengan buku, pensil, dan kertas

Cara mereka mendapatkan hal tersebut adalah dengan cara mendengarkan apa yang dibacakan oleh orang dewasa kepadanya di mana orang dewasa ini menanggapi dan mengharagai ketertarikan anak akan bucu dan membaca; tersedianya buku, kertas, pensil, dan huruf-huruf.

Pada tahap ini kebanyakan anak dapat mengerti buku cerita anak-anak dan cerita yang dibacakan kepada mereka. Mereka mengerti ribuan kata yang mereka dengar sampai saat usia enam tahun, akan tetai mereka hanya bisa menuliskan sedikit dari kata-kata tersebut.

 

2.      Tahapan 1: initial reading and decoding (pengenalan awal membaca dan decoding )

Tahap ini dimulai pada usia 6 dan 7 tahun atau pada Grade 1 dan permulaan Grade 2 di sekolahnya. Karakteristik dan kemampuan kualitatif yang dicapai pada tahap ini adalah:

a.       Seorang anak belajar hubungan antara huruf dan bunyi;

b.      Hubungan antara kata lisan dan tulisan;

c.       Seorang anak dapat membaca teks sederhana yang mengandung kata-kata berfrekuensi tinggi dan kata-kata biasa;

d.      Menggunakan keahlian dan pengelihatan untuk mengucapkan kata-kata satu silabel yang baru.

Mereka mendapatkan hal tersebut dengan cara pengajaran langsung dalam hubungan kata-kata (phonics) dan berlatih dalam menggunakanya, membaca cerita-cerita sederhana yang menggunakan kata-kata dengan frekuensi yang tinggi, dan mendengarkan apa yang dibaca kepada mereka. Bahan bacaan yang ditanyakannya adalah bahan yang lebih tinggi dari apa yang sudah dibacanya sendiri, untuk mengembakan pola bahasa, pengetahuan akan ata baru dan ide. Pada tahap ini tingkat kesulitan bahasa tulisan masih ada dibawah bahasa yang ia mengerti secara lisan pada tahap ini kebanyakan anak dapat mengerti sampai 4000 kata atau nahkan lebih secara lisan tapi mereka hanya dapat sekitar 600 kata.

3.      Tahap 2: confirmation and fluency (konfirmasi dan kelancaran)

Tahap ini berada pada usia anak 7 – 8 tahun. Karakteristik dan kemampuan kualitatif yang dicapai pada tahap ini adalah:

a.       Seorang anak dapat membaca cerita sederhana yang sudah dikenalnya dengan kelancaran yang bertambah yang dilakukan dengan mengkonsolidasi unsur-unsur penyandian dasar dan pengelihatan perbendaharaan kata;

b.      Konteks arti dalam membaca cerita yang sudah dikenalnya yang didapat melalui pengajaran langsung dalam keahlian penyandian yang lebih maju;

c.       Membaca secara bebas bahan-bahan yang menarik, baik atas perintah orang lain maupun atas kemauan sendiri yang dapat membantu meningkatkan kelancaran membaca;

d.      Membacakan sesuatu yang ada di atas tingkat kemampuan membaca mereka untuk mengembangkan Bahasa, perbendaharaan kata, dan konsep-konsep.

Pada akhir tahap ini sekitar 3.000 kata dapat mereka baca dan mengerti, serta sekitar 9.000 kata mereka ketahui secara lisan. Namun, pada tahap ini mendengarkan masih tetap efektif dibandingan membaca.

4.      Reading for learning the new (membaca untuk mempelajari hal-hal baru)

 Tahap ini berada pada saat usia anak sekitar  9 – 13 tahun. Tahap ini terbagi dalam dua fase, yaitu fase A dan fase B. Fase A, yaitu tingkat intermediate antara kelas 4 sampai dengan kelas 6; sedangkan fase B, yaitu tingkat Junior High School (SMP). Karakteristik dan kemampuan kualitatif yang dicapai pada tahap ini adalah kegiatan membaca digunakan untuk:

a.       Mempelajari ide-ide baru:

b.      Memperoleh pengetahuan baru, dan

c.       Mempelajari sikap-sikap baru yang pada umumnya dilihat pada sutu sudut pandang.

Jenis bahan bacaan yang sesuai untuk tahap ini dalah buku teks, buku refrensi, koran, dan majalah. Pada tahap ini juga terdapat peningkatan minat pada jenis fiksi, nonfiksi, dan biografi.

Dari tahapan-tahapan diatas dapat disimpulkan pada setiap jenjang umur anak memiliki karakteristik masing yang berbeda. Hal ini dilihat dari pendidikan yang ditempuhnya. Maka kita dapat mengidentifikasi bacaan yang tepat sesuai karakteristisk.  Setiap anak mendapatkan kemampuan berdasarkan apa yang diajarkanya sesuai dengan tingkatan umur dan tingkatan pendidikanya. Mereka mendapatkan kemampuan dari membaca dan proses membacanya sendiri, kemampuan yang mereka dapatkan seperti  mengenal kata kiasan, memahami cerita secara mendalam, menyimpulkan sebuah cerita, dll.

C.    Jenis Buku Bacaan Anak Berdasarkan Umur

Menurut Wulan, Cahya Tri (2016) menjelaskan jenis buku bacaan anak berdasarkan umur adalah sebagai berikut:

1.      Babies (0-18 bulan)

Jenis buku yang sesuai bagi bayi dengan usia 0-18 bulan adalah tipe buku dengan fisik yang lebih kuat dari sisi kertasnya, kuat maksudnya adalah buku-buku dengan kualitas kertas lebih tebal dan tidak mudah robek. Mengingat anak dengan usia tersebut belum mengerti dan mengenal buku maka biasanya ia hanya menyentuhnya saja karena itu jika kualitas kertasnya buruk maka buku akan cepet robek.  Selain kualitas kertas buku yang kuat, kita juga bisa menyediakan koleksi buku yang dapat merangsang indera anak, misalnya buku 3 dimensi dengan gambar timbul yang bisa disentuh anak hingga bisa memaksimalkan indera perabanya. Jenis buku yang bisa mengeluarkan suara atau lampu-lampu juga bisa digunakan guna merangsang indera pendengaran dan penglihatan anak sehingga menarik minatnya terhadap buku tersebut.

2.      Toddlers (3 tahun)

Untuk usia Toddlers atau batita (bayi tiga tahun) sebenarnya masih biasa menggunakan jenis buku untuk bayi 0-18 bulan seperti yang dipaparkan diatas, kemudian ditambahkan dengan pengenalan buku aktivitas. Buku aktivitas dapat berisi aktivitas saja atau menggabungkan cerita dengan aktivitas. Untuk anak usia ini, lebih baik diperkenalkan jenis buku aktivitas tanpa campuran cerita terlebih dahulu. Misalnya aktivitas menempelkan gambar dan lain-lain.

3.      Preschooler (3-5 tahun)

Anak usia preschooler atau balita yaitu usia anak sebelum mamasuki masa sekolah. Di usia ini kita bisa memberikan anak buku cerita bergambar jenis pictorial book, yaitu buku cerita dengan muatan tulisan cerita sangat sedikit dan gambar hampir mendominasi keseluruhan lembar buku. Cerita hanya bersifat sebagai pelengkap. Bahkan diharapkan orangtua membacakan buku ini dengan menggunakan bahasanya sendiri. Selain pictorial book, buku jenis aktivitas juga dianjurkan diberikan pada anak usia ini karena berguna untuk mematangkan anak sebelum memasuki dunia sekolah yang sesungguhnya. Buku aktivitas yang diberikan bisa buku aktivitas yang berisi aktivitas saja atau menggabungkan cerita dengan aktivitas.

4.      Early Elementary (6-8 tahun)

Anak usia early elementary atau usia awal sekolah sebaiknya disuguhi dengan bacaan yang sifatnya dasar seperti pengenalan huruf, kalimat dan cara membaca yang tepat karena dalam tahapan ini masih baru mengenal bacaan. Untuk buku ceritanya kita  bisa memberikan buku cerita bergambar jenis llustration Book, yaitu buku yang biasanya memiliki perbandingan gambar dan cerita seimbang. Jumlah halamannya pun lebih banyak dibandingkan pictorial book. Jenis buku ini biasanya sudah dibaca langsung oleh anak. Karena umumnya sifat anak usia ini adalah penasaran akan segala sesuatu hal maka melalui llustration Bookanak sudah mulai tertarik membaca kalimat demi kalimat dari suatu cerita karena dia tidak bisa hanya mengandalkan gambar yang ditampilkan dalam cerita yang kurang lengkap.

5.      Tweenagers ( 8-12 tahun)

Anak usia tweenagers atau remaja awal sudah bisa kita suguhi buku jenis novel, cerpen atau kumpulan cerpen yang biasanya minim gambar. Namun kita juga harus memperhatikan materi muatan cerita fiksi tersebut yang harus mengandung pembelajaran dan tidak memberikan dampak buruk bagi anak. Seperti layaknya karya fiksi umumnya maka novel atau cerpen khusus anak pun memiliki unsur-unsur fiksi seperti ide, tema, penokohan, karakter, setting dan alur. Hanya saja biasanya unsur-unsur tersebut lebih sederhana. Jumlah halaman pada cerpen atau novel anak juga tidak sebanyak dengan cerpen atau novel dewasa. Sebagai gambaran, untuk novel anak hanya berkisar maksimal 60 halaman. Jauh lebih sedikit dibanding novel dewasa yang bisa beratus-ratus halaman.

6.      Teenagers (12-18 tahun)

Saat usia teenagers atau remaja, anak mulai mengenal buku dengan berbagai jenis subjek. Karena itu pemilihan buku biasanya disesuaikan dengan keinginan dan kesukaannya semata, ini adalah masa peralihan dimana anak tersebut akan memilih koleksi buku anak atau mulai memasuki koleksi umum. Maka peranan pustakawan adalah penyediaan buku dengan subjek-subjek baru yang menarik bagi remaja. Cara tercepat untuk melakukan hal tersebut adalah melalui hobi mereka. Dengan mengetahui hobinya maka kita bisa memancing mereka untuk membaca buku yang berkaitan dengan hobi tersebut. Contohnya remaja mulai hobi berdandan maka kita sediakan buku kecantikan, salon dan fashion begitupun jika ia senang menonton moto gp maka kita sediakan koleksi tentang otomotif dan sebagainya.

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Dalam memilih buku untuk anak perlu diperhatikan tiga yaitu kenali anak, ketahui buku dan pertimbangkan cara penyampaian. Disamping itu harus mempertimbangkan tahapan-tahapan perkembangan membaca anak. Karena dengan hal itu kita dapat mengidentifikasi tema atau isi bacaan yang cocok dengan usia dan pendidikan anak. Jenis bacaan dibedakan berdasarkan umur yaitu Babies (0-18 bulan), Toddlers (3 tahun), Preschooler (3-5 tahun), Early Elementary (6-8 tahun), Tweenagers ( 8-12 tahun) dan Teenagers (12-18 tahun). Tentunya jenis bacaan dari setiap jenjang umur berbeda disesuaikan dengan porsi masing-masing.

B.     Saran

Setelah kami membuat seluruh isi dari makalah syarat pemilihan bacaan ini kami bermaksud memberi sedikit saran kepada pembaca untuk memperhatikan jenis bacaan yang sesuai untuk anak-anak berdasarkan umur maupun pendidikannya. Saran untuk pustakawan, sebaiknya pustakawan, khususnya pustakawan yang bekerja di perpustakaan umum maupun perpustakaan yang memiliki koleksi khusus anak untuk lebih memperhatikan dan teliti dalam memilih koleksi yang disajikan untuk anak-anak. Saran untuk anak sebaiknya membanca bacaan yang lebih bersifat edukatif dan tidak mengandung unsur-unsur dewasa sama sekali.

Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk melengkapi makalah yang penulis buat. Apabila ada terdapat kesalahan mohon dapat mema'afkan dan memakluminya, karena kami adalah hamba Allah yang tak luput dari salah.

 

Daftar Pustaka

 

Auliawan, Fiqi dan Lawanda, Ike Iswary.2013. Pemilihan Bacan Anak:Studi Kasus di Komunitas 1001 Buku Dalam http://lib.ui.ac.id/naskahringkas/2016-04/S53075-Fiqi%20Auliawan%20Wisnuwardhana diakses pada Senin, 30 Oktober 2017 Pukul 20.00 WIB

Kaha, Kornelis.2017.Najwa Shihab: minat baca masyarakat Indonesia rendah Dalam http://www.antaranews.com/berita/646185/najwa-shihab-minat-baca-masyarakat-indonesia-rendah diakses pada Senin, 30 Oktober 2017 Pukul 21.00 WIB

Lynch-Brown, Carol dan Tomlinson,Carl M. 1999. Essential of Children’s Literature. USA: Allyn dan Bacon.

Ramadhan, Lucky Aditya.2016. Minat Baca di Kota Malang Masih Rendah Dalam http://beritajatim.com/pendidikan_kesehatan/274082/minat_baca_di_kota_malang_masih_rendah.html diakses pada Senin, 30 Oktober 2017 Pukul 21.10 WIBSudarsana. 2010. Materi pokok pembinaan minat baca. Jakarta: Universitas Terburka.

Sudarsana, Undang. 2010. Materi pokok pembinaan minat baca. Jakarta:Universitas Terbuka

Wulan, Cahya Tri. 2016. Jenis Bacaan dan Program Kegiatan Perpustakaan Bagi Anak dan Remaja Dalam (http://bpad.babelprov.go.id/perpus/artikel/155-jenis-bacaan-dan-kegiatan-perpus-bagi-anak-dan-remaja.html), diakses pada tanggal 30 Oktober 2017 pukul 21.30 WIB.

 

 

 

Pemilihan Bacaan Anak dan Remaja

 

Makalah

Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Literatur Anak dan Remaja

Dosen Pengampu : Rizki Fitria Dewi, SE.MA.

 

 

Oleh :

Kelompok 6

1.      Gani Nur Pramudyo                   145030700111006

2.      Feisal Dermawan                       145030700111007

3.      Ismail Alim Prayogi                   145030701111012

4.      Ahmad Ikhsan                           145030701111014

 

 

clip_image002[4]

PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN

JURUSAN ADMINISTRASI PUBLIK

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

OKTOBER 2017


KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala Rahmat-Nya. Dengan kemurahan yang telah diberikan oleh Tuhan sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini dengan baik. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih kepada Ibu Rizky Fitria Dewi, SE., MA selaku dosen pengampu mata kuliah Literatur Anak dan Remaja serta teman-teman yang banyak membantu dalam penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki, baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal lainnya.

Oleh karena itu penulis meminta maaf atas ketidaksempurnaannya dan juga memohon kritik dan saran untuk penulis agar bisa lebih baik lagi dalam membuat makalah ini. Harapan penulis mudah-mudahan apa yang telah kami susun ini bisa memberikan manfaat untuk diri kami sendiri, teman-teman serta orang lain.

 

 

 

 

Kelompok 6

 


 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

A.   Latar Belakang. 1

B.    Rumusan Masalah. 3

C.    Tujuan. 3

BAB II PEMBAHASAN.. 4

A.   Memilih Buku untuk Anak. 4

B.    Tahapan perkembangan membaca. 5

C.    Jenis Buku Bacaan Anak Berdasarkan Umur 9

BAB III PENUTUP. 12

A.   Kesimpulan. 12

B.    Saran. 12

Daftar Pustaka. 13