Kebudayaan sebagai Sistem Adaptasi :Monumen Simpang Lima Gumul

Kebudayaan sebagai Sistem Adaptasi - Objek (budaya material) adalah benda-benda material yang sering ditemui, saling mempengaruhi dan berguna. Budaya material merujuk pada objek material apa pun (misalnya sepatu, cangkir, pena); jaringan objek material (misalnya rumah, mobil, pusat perbelanjaan) yang dilihat orang, disentuh, digunakan dan ditangani, melakukan kegiatan sosial; portabel dan dapat disentuh oleh sentuhan.

Studi budaya material merupakan serangkaian penyelidikan ilmiah tentang penggunaan dan pemaknaan objek. Objek dalam studi budaya material digunakan sebagai sebagai penanda sosial (memiliki nilai estetika dan budaya), penanda identitas (menunjukkan preferensi/selera) dan sebagai situs kekuatan dan budaya politik (relasi kuasa tertentu).

Objek penting bagi budaya dan masyarakat. Objek dianggap penting karena lebih berlimpah, ada di mana-mana, dan terlibat dalam representasi sosial atau simbolisasi, dan diakui mengandung makna penting bagi tindakan sosial. Objek mewakili atau melambangkan beberapa aspek budaya, dan memiliki resonansi budaya karena mereka diakui oleh anggota masyarakat atau kelompok sosial. 

Objek memiliki kehidupan sosial atau biografi. Dalam masyarakat modern, objek memiliki lintasan, maknanya dapat berubah seiring waktu dan ruang. Objek di dalam komuditas tertentu memiliki nilai tukar berbeda, apabila di istemawakan oleh orang atau ritual tertentu menjadi lebih bermakna dan bernilai tinggi. 

Objek memiliki makna budaya karena adanya penggunaan, pemaknaan  dan pengakuan tertentu dari anggota masyarakat atau kelompok sosial. Sebaliknya, objek tidak berarti apa-apa apabila tidak digunakan, tidak diberikan makna bahkan tidak diakui sehingga objek itu menjadi tidak bernilai. 

Kebudayaan sebagai Sistem Adaptasi

Studi budaya material (objek) 

Beberapa artikel terkait studi budaya material (objek) seperti Budiwiyanto, Hikmasari dan Sahayu (2019), dan Pratama (2019). 

Pertama, artikel  Budiwiyanto berjudul Kamus dalam perspektif budaya material. Kamus (objek) mempunyai fungsi sosial dan makna simbolik bagi manusia. Kamus dapat digunakan dan dimanfaatkan manusia, di lain sisi memiliki fungsi dan makna lain. Kamus digunakan sebagai identitas mahasiswa. Kamus belanda-indonesia dan perancis-indonesia yang dibawa mahasiswa menunjukkan jurusannya (juruasn bahasa belanda/perancis). Semakin berkualitas kamus, harganya semakin mahal. Kamus yang mahal ini dikonsumsi oleh orang tertentu (contohnya orang memiliki uang), sehingga menjadi penanda identitas sosial. Kamus saat ini tidak terbatas pada medium cetak, dalam perkembangannya terdapat kamus dalam medium digital. Kamus cetak identik dengan tebal, berat dan mahal; penggunaan nya perlu dibolak-balik. Sebaliknya, kamus digital lebih praktis, pencariannya lebih cepat dan pengguna biasanya adalah generasi milineal. 

Kedua, penelitian Hikmasari dan Sahayu (2019) tentang unsur budaya material dalam Novel Entrok karya Okky Madasari. Objek dalam studi material dapat ditemukan dari karya sastra berupa novel. Novel sebagai hasil karya penulis, dapat merefleksikan kehidupan yang ada di masyarakat. Temuan Hikmasari dan Sahayu (2019), menunjukkan objek-objek yang terdapat dalam novel entrok seperti makanan, bangunan, pakaian, kendaraan, peralatan sehari-hari dan alat kesenian. Objek-objek yang terdapat dalam novek ini dapat dijadikan pembelajaran dan penggunannya dapat lebih dimanfaatkan. Makanan menjadi objek yang sering dijumpai karena merupakan kebutuhan dasar, sedangkan bangunan, pakaian, kendaraan, peralatan sehari-hari dan alat kesenian tidak menjadi unsur dominan dalam kehidupan masyarat. Dapat disumpulkan dalam artikel ini, bahwa studi material dapat digunakan untuk mengambarkan objek, pemaknaan dan pemanfaatannya oleh masyarakat yang terdapat dalam karya sastra. 

Ketiga, penelitian Pratama (2019), salah satu aspek yang dibahas terkait aspek budaya material. Penelitian ini mengidentifikasi pengaruh objek untuk membangun popularitas Starbucks di Indonesia. Objek yang ada seperti marchandise berlabel starbuck mencakup cangkir, botol minum, peralatan meracik kopi, kartu keanggotaan pelanggan dan objek lain di gerai kopi. Kepemilikan merchandise starbucks, memiliki makna tertentu dan daya tarik bagi pelanggan. Objek terebut selalu mengikuti tren dan memiliki kekhasan tersendiri dibanding objek lain. 

Berdasarkan ketiga contoh di atas objek memiliki kegunaan dan pemaknaan tertentu bagi individu dan masyarakat. Objek menjadi tidak sekedar hanya digunakan sesuai dengan fungsinya dan keperluan sehari-hari. Objek dapat digunakan sebagai penanda identitas, menunjukkan latar belakang pendidikan seseorang, kekayaan, preferensi, hingga gaya yang tengah berkembang. Selain itu, objek tersebut memiliki keterikatan dengan ruang dan waktu. Objek dapat berkembang sehingga mengalami pemakanaan dan penggunaan berbeda seperti yang contohkan kamus cetak dan digital. Penggunanya pun beragam pula, dari generasi lama hingga generasi milineal. 

Contoh

Selanjutnya, contoh lain objek dalam studi material seperti Monumen Simpang Lima Gumul. Monumen Simpang Lima Gumul (Objek) adalah objek yang berada disekitar tempat tinggal penulis. Monumen Simpang Lima Gumul (selanjutnya disebut SLG) terletak di Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa objek memiliki fungsi dan pemakanaan budaya tertentu. 

SLG merupakan objek pariwisata dan menjadi ikon di Kediri. Monumen Simpang Lima Gumul menyatukan lima arah yang ada di wilayah Kabupaten Kediri, memiliki makna sinergitas bersama seluruh elemen yang ada di Kabupaten Kediri dalam memajukan Kabupaten Kediri. Masyarakat memanfaatkannya SLG untuk berkunjung ataupun menambah pendapatan dengan berjualan di sekitar. Monumen ini menjadi tempat berkumpulnya komunitas seperti kediri runners dan pusat pameran budaya (Wahyuningtyas, 2017). 

SLG dimaknai sebagai tempat untuk berwisata dan kebutuhan rekreatif, tempat berkumpul mengadakan kegiatan tertentu (seperti car free day, earth hour, pekan budaya), sebagai ladang ekonomi bagi pedagang, serta sebagai identitas Kabupaten Kediri (Maylin 2019). 

Lebih lanjut, menurut Ardhani (2011) tujuan pembangunan SLG adalah sebagai ikon kabupaten kediri yang megah sebagai bentuk prestige/gengsi dengan daerah lain. Pemanfaatan kawasan sekitar SLG sebagai wisata modern, ruang terbuka untuk masyarakat, pusat MCIE, pusat perkantoran dan pusat CBD (central business district) kabupaten kediri. Acara yang diadakan di SLG tiap tahun seperti acara puncak pekan budaya dan pariwisata kabupaten kediri, HUT kabupaten kediri dan malam tahun baru. Acara ini merupakan wujud pelestarian budaya dan sebagai hiburan untuk masyarakat. SLG dibangun didasarkan adaptasi desain dari Arc de Triomphe Perancis untuk menambah daya tarik. Selain itu, desain SLG lebih menekankan daya tarik yang berorientasi bisnis, dan tidak memerhatikan budaya asli kediri untuk diangkat dalam desain bangunan SLG.

Arc de Triomphe (kiri) dan Simpang Lima Gumul (kanan)
Gambar 1. Arc de Triomphe (kiri) dan Simpang Lima Gumul (kanan) Sumber: WowKeren

Berdasarkan temuan peneliti di atas, dapat disimpulkan bahwa SLG menjadi sebagai ikon atau identitas di kabupaten kediri. Ini disebut sebagai objek sebagai penanda identitas. Di dalamnya terdapat unsur prestige/gengsi, kemegahan bangunan dibanding daerah lain. Masyarakat memaknai SLG sebagai untuk wisata/ruang terbuka, perdangangan dan pusat segala aktivitas di Kabupaten Kediri. Desain SLG mengadaptasi Arc de Triomphe Perancis untuk menambah daya tarik dan beriotasi pada bisnis. Desain bangunan adaptasi ini pada dasarnya belum mencerminkan desain bangunan asli kabupaten Kediri

Referensi

Ardhani, Hafida W. 2011. “Monumen Simpang Lima Gumul Sebagai Ikon City Branding Kabupaten Kediri.” IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 13(128):234. 

Budiwiyanto, A. “Kamus Dalam Perspektif Budaya Material” dalam http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/2796/kamus-dalam-perspektif-budaya-material diakses pada 17 Mei 2020

Hikmasari, Miftahurohmah, dan Wening Sahayu. 2019. “Unsur Budaya Material dalam Novel Entrok Karya Okky Madasari.” Atavisme 22(2):200–216.

Maylin, Malfinda Indra. 2019. “KONSTRUKSI SOSIAL SIMPANG LIMA GUMUL (Studi Makna Simpang Lima Gumul bagi Masyarakat Desa Tugurejo dan Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri).” Publikasi Ilmiah Unair 217.

Pratama, Rifka. 2019. “Aspek Kebudayaan Material dan Non Material pada Gerai Kopi Starbucks.” Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi 3(1):100.

Wahyuningtyas, Nia Tri. 2017. “PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN KAWASAN MONUMEN SIMPANG LIMA GUMUL KEDIRI.” Publika 5(2).

Woodward, I. (2007). Understanding material culture. Sage. 

Wowkeren. 2018. “Murah Meriah Dan Tak Perlu Jauh, Spot Wisata Di Jawa Timur Ini Membuat Foto Liburanmu Berasa Di Luar Negeri” dalam https://www.wowkeren.com/berita/tampil/00219393/2.html diakses 18 Mei 2020

Catatan 

Artikel Kebudayaan sebagai Sistem Adaptasi Disusun untuk memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Matakuliah Teori Kebudayaan Program Magister Ilmu Perpustakaan dan Informasi FIB UI 2020 



Gani Nur Pramudyo
Gani Nur Pramudyo Halo saya Gani! Saya berupaya menginspirasi melalui tulisan. Keperluan narasumber atau kerjasama, silakan hubungi saya.

Posting Komentar untuk "Kebudayaan sebagai Sistem Adaptasi :Monumen Simpang Lima Gumul"