Memandang Fenomena Budaya dengan Kacamata Semiotik

Semiotik merupakan “lmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia, yakni sesuatu yang harus diberi makna”. Semiotik terbagi dua yaitu Struktural/Dikotomis dan Pragmatis/Trikotomis

Struktural/Dikotomis (Penanda dan Petanda) sesuai penjelasan F. De Saussure, Roland Barthes yaitu “Tanda sebagai sesuatu yang menstruktur (proses pemaknaan berupa kaitan antara penanda dan petanda) dan terstruktur (hasil proses tersebut) di dalam kognisi manusia, dimana hubungan bentuk dan makna tidak bersifat pribadi, tetapi sosial yakni didasari oleh “kesepakatan” (konvensional) sosial”

Pragmatis/Trikotomis (Representamen, Objek, dan interpretan) sesuai penjelasan  Charles Sanders Pierce (1931-1958) yaitu “tanda bukanlah suatu struktur melainkan suatu proses kognitif dari apa yang berasal dari apa yang ditangkap pancaindra”

Semiotik dan Kebudayaan

Semiotik dapat digunakan untuk mengkaji kebudayaan

Semiotik tidak selalu dipandang sebagai ilmu, meskipun sebagian ada yang menganggap sebagai ilmu. Namun kebanyakan pakar melihat semiotik hanya sebagai perangkat teori untuk mengkaji tanda, yakni sebagai sistem yang hidup dalam suatu kebudayaan

Danesi dan Perron (1999): Kebudayaan ditinjau dari semiotik adalah “Interconnected system of daily living that is held together by the signifying order (Signs, codes, texts)”

Semiotik melihat kebudayaan (gejala budaya) sebagai sistem tanda yang oleh anggota masyarakatnya diberi makna sesuai dengan konvensi yang berlaku.

Metodologi, Metode dan Teknik Penelitian dalam Semiotik

Metodologi penelitian ilmiah bertumpu pada teori, teori bertumpu pada “pandangan dunia”

Teori-teori semiotik bertumpu pada pandangan bahwa dibalik apa yang ditangkap pancaindra ada sesuatu yang lain yang dapat diserap oleh kognisi dan perasaan kita dapat dikembangkan dlm suatu pengkajian

3 tataran metodologi: paradigma, metode yang dipilih, teknik yang dipakai 

Paradigma metodologis penelitian yang menjadi tumpuan semiotik budaya adalah paradigma kualitatif (sbg paradigma pokok), penelitian artefak atau teks yang dapat didukung dengan paradigma partisipatoris dan atau bahkan kuantitatif.

Data penelitian kualitatif : data auditif, teks, data audiovisual, visual, artefak, dan perilaku sosial


Semiotik Struktural

Tanda adalah sesuatu yang terstruktur dalam kognisi manusia dalam kehidupan bermasyarakat, sedangkan penggunaan tanda didasari oleh adanya kaiah-kaidah yang mengatur praktik berbahasa dalam kehidupan bermasyarakat

Apabila manusia memandang suatu gejala budaya sebagai tanda maka ia melihatnya sebagai sebuah struktur yang terdiri dari penanda (bentuk) yang dikaitkan dengan petanda (makna)

Manusia melihat tanda melalui 2 poros, sintagmatik dan asosiatif (hubunga antartanda dalam ingatan manusia yang membentuk sistem dan paradigma)

Teori tanda bersifat dikotomis, melihat tanda dari 2 aspek yang berkaitan,  dan relasi antartanda sebagai relasi pembeda “makna”

Analisis didasari oleh sebagian atau seluruh kaidah analisis struktural

Semiotik Pascastrukturalis Barthes (1915-1980)

Teori semiotik Barthes diturunkan dari teori bahasa menurut de Saussure

Dua konsep yang dikembangkan oleh Barthes terkait semiotik: sintagmatik & paradigmatik serta denotasi & konotasi

Dalam sintagmatik & paradigmatik ada yang disebut sintagme dan sistem

  1. Sintagme: suatu susunan yang didasari hubungan sintagmatik
  2. Sistem: jaringan relasi

Barthes mengembangkan model dikotomis penanda & petanda menjadi lebih dinamis: 

  1. Penanda: ekspresi (E) tanda
  2. Petanda: isi (contenu: C)

Sesuai dengan teori de Saussure, tanda adalah relasi (R) antara E dan C → E-R-C

Dalam kehidupan sosial budaya, pemakai tanda tidak hanya memaknai tanda  sebagai denotasi – sistem “pertama”.

Pemakaian tanda dikembangkan ke dua arah – yang disebut Barthes sistem “kedua”:

  1. Pengembangan ke arah E: pemakai tanda memberi bentuk yang berbeda untuk makna yang sama
  2. Pengembangan ke arah C: pengembangan makna yang disebut konotasi

Semiotik Pasca Strukturalis Derrida (1930-2004)

Teori tentang bahasa: 

  1. bahasa bersifat memenuhi dirinya sendiri dan terbebas dari manusia
  2. bersumber pada tulisan
  3. bahasa yang sebenarnya: tulisan

Bagi Derrida pemaknaan hal yang dimaknai adalah suatu proses dengan cara membongkar (to dismantle) dan menganalisis secara kritis (critical analysis) hal yang dimaknai (hlm. 28)

Dekonstruksi: proses “penundaan” hubungan antara penanda dan petanda untuk menemukan makna lain atau makna baru 

Hubungan yang baru ini disebutnya différance (hlm. 28)

Catatan Hoed (hlm. 29): 

  1. Derrida mengakui bahwa tanda terdiri dari penanda dan petanda → kaidah strukuralis: melihat tanda sebagai sesuatu yang terstruktur
  2. Anggapan bahwa bahasa dapat berkembang sendiri tidak benar karena yang melakukan dekonstruksi adalah manusia. Namun bisa juga dipahami sebagai upaya untuk memahami teks secara lebih mandiri tanpa didominasi oleh pemikiran yang sudah tertanam dalam masyarakat

Barthes dan Derrida menggunakan teori tanda yang sama dan mencoba melihat pemaknaan tanda secara lebih dinamis.

Barthes berbicara tentang mitos melalui proses konotasi yang hidup dalam masyarakat, sedangkan Derrida menekankan pada kebebasan yang dimiliki tanda untuk bermakna sesuai dengan tempat dan waktu. 


Semiotik pragmatis (Peirce) dan (Danesi & Perron)

Peirce (1931-1958) 

Proses semiosis meliputi representamen ("sesuatu")  objek ("sesuatu di dalam  kognisi manusia")  interpretan ("proses penafsiran"). Proses semiosis pada dasarnya tidak  terbatas (seperti juga proses dekonstruksi Derrida). 

Contoh semiotik peirce ini, seperti mengenai  erotisme (nafsu birahi) dan pornografi (cabul). Ketika pornografi dibicarakan di kalangan terbatas/dalam pembicaraan sehari-hari, tidak ada sesuatu yang penting terjadi. Namun, saat kata itu dibicarakan dalam  kaitan dengan  sebuah rancangan undang-undang (RUU) terjadilah polemik.

Danesi dan Perron (1996)

Proses semiosis pada dasarnya menyangkut segi "tubuh/body" (fisik), setidak-tidaknya pada  tahap  awal.  Kemudian melalui  representasi berkembang kegiatan di dalam "pikiran" dan selanjutnya, bila dilakukan  dalam rangka kehidupan sosial, menjadi sesuatu yang  hidup  dalam "kebudayaan" sebagai signifying order. 

Semiotik Komunikasi & Semiotik Signifikasi (Umberto Eco)

Semiotik Komunikasi

Melihat tanda  sebagai  alat berkomunikasi yang melibatkan  pengirim  dan penerima tanda. Pusat perhatiannya adalah  teori tentang  sistem tanda  (kode)  sebagai  alat komunikasi. Tanda merupakan sebuah satuan kultural. Teori tentang sistem tanda  yang menjadi  fokus semiotik komunikasi  melihat setiap tanda  (semiotic object) bukan sekadar sebagai satuan semantis, melainkan  sebagai  bagian  dari "interconnected cultural units". Jadi, tanda  di dalam  suatu sistem merupakan suatu makna  yang didasari konvensi  di antara warga suatu masyarakat.

Semiotik signifikasi

Memfokuskan perhatian pada  produksi tandanya  sendiri. Fokusnya adalah teori produksi dan  pemaknaan tanda. Dalam memaknai tanda ini, penerima sebenarnya memproduksi tanda  baru. 

Produksi  tanda  merupakan  suatu  tindakan  fisik  (physical labor). Upaya fisik itu terdiri dari empat jenis, yakni: recognition (pengenalan tanda  melalui  inprints, symptoms, dan clues), ostension (penunjukan dengan cara memperlihatkan contoh, pecontoh, dan pecontoh fiktif), replica (secara vektoral, dengan stilisasi,  dan gabungan  keduanya  atau  stimuli yang terprogram), dan invention (tanda yang diciptakan  dengan  stimuli terprogram, kongruensi, proyeksi, dan grafis). 

Mengenai semiosis, yang menurut Peirce bersifat tak terbatas,· Eco menyanggahnya dengan mengemukakan bahwa proses semiosis akan  berhenti ketika manusia dibatasi "prinsip-prinsip supra- individual"

Rangkuman buku Hood, B. H. (2014). Memandang Fenomena Budaya  dengan Kacamata Semiotik. Dalam Semiotik & dinamika sosial budaya. Komunitas bambu, Depok.Disusun oleh kelompok 2 Ghani Nur Pramudyo, Hermin Triasih, Liliane Mojau

Gani Nur Pramudyo
Gani Nur Pramudyo Sedang belajar Ilmu Kearsipan di FIB UI (S2). Untuk keperluan narasumber silakan hubungi saya, saya akan berusaha menyanggupinya.

Posting Komentar untuk "Memandang Fenomena Budaya dengan Kacamata Semiotik"