Model Daur Hidup Kurasi Digital

Model Daur Hidup Kurasi Digital

Model Daur Hidup Digital Curation Centre (DDC) menggambarkan kerangka kerja yang sangat baik untuk membuat konsep, merencanakan, menerapkan, dan mempertahankan inisiatif kurasi digital.

Konseptualisasi dan rencana induk

  • Model siklus hidup dimulai dengan konseptualisasi; menginformasikan perencanaan dan pelaksanaan kurasi, aspek hukum. 
  • “Individu" memainkan peran penting,tidak hanya membuat tetapi juga memilih materi untuk kurasi
  • Pertimbangan teknologi yang dikembangkan
  • Data (objek digital dan database) berupa koleksi teks dan foto, materi audio dan video berbasis film serta born-digital
  • Representasi Informasi berupa pengembangan dan pengelolaan metadata berkembang dari awal siklus hidup dengan penciptaan koleksi dan data digital

Full lifecycle actions 

  1. Perencanaan preservasi merumuskan pengembangan koleksi dan kebijakan kurasi termasuk akses terbuka. Kurator mengelola koleksi digital melibatkan dokumentasi, kepegawaian, peralatan, anggaran, dan alur kerja serta mengelola prosesnya, penempatan staf.
  2. Pengawasan dan partisipasi komunitas melibatkan stakeholder yang menggunakan, mengevaluasi, dan mengomentari koleksi

Sequential Actions

  1. Konsep: Konseptualisasi koleksi menyiratkan adanya hubungan dengan departemen pembuat record, koleksi khusus, arsip, fakultas, dan mungkin anggota masyarakat yang tertarik untuk mengembangkan koleksi warisan budaya. 
  2. Membuat atau Menerima: berupa wawancara sejarah lisan yang diproduksi secara digital, Foto digital dari acara institusional serta membuat metadata administratif, deskriptif, struktural, teknis, dan pelestarian 
  3. Menilai dan memilih: menentukan nilai bukti dan informasi dari koleksi
  4. Ingest: melibatkan transfer konten digital ke kurator repositori digital
  5. Tindakan preservasi: jangka pendek dan jangka panjang untuk mencegah kehilangan data di repositori dan server digital
  6. Penyimpanan: Pemilihan dan penggunaan metode penyimpanan seperti hard drive komputer, perangkat penyimpanan sementara (seperti Flash drive), atau drive jaringan di intranet institusi. 
  7. Transform: lebih menyebar ketika koleksi harus berpindah di antara repositori yang berbeda dengan struktur data yang berbeda, persyaratan metadata, dan jenis file. 

Tindakan Sesekali

Termasuk penilaian ulang, penghancuran, dan migrasi.

Gb 1. DCC curation lifecycle model

Preservasi dan Konservasi dalam Siklus Kurasi Digital

Preservasi mengacu pada upaya sistematis untuk memperpanjang umur konten digital, konservasi mengacu pada perlakuan khusus terhadap media asli. preservasi melibatkan "perlindungan bahan dengan meminimalkan kerusakan fisik dan kimiawi dan untuk meminimalkan hilangnya informasi dan memperpanjang umur kekayaan budaya. Konservasi adalah "perbaikan atau stabilisasi bahan melalui perlakuan kimiawi atau fisik untuk memastikan bahwa mereka bertahan dalam bentuk aslinya selama mungkin" 

Perencanaan Preservasi dan Konservasi dalam Siklus Kurasi Digital berperan untuk memastikan ketersediaan akses materi born digital, manuskrip (cetak dan digital) serta koleksi khusus digital

Adapun langkah yang dapat ditempuh dengan merumuskan kebijakan pengembangan koleksi dan kebijakan kurasi digital. Kolaborasi antar staf, asisten siswa dan volunteer diperlukan unyuk pengemabangan koleksi, metadata yang akurat, memberikan konteks informasi pada materi digital dan menghimpun materi dari konten digital

Contoh kasus dan Analisis

Artikel Heidorn (2011) terkait The Emerging Role of Libraries in Data Curation and E-science. Artikel ini membahas "Database" yang direferensikan secara tepat dari model, tetapi ada sedikit perbedaan antara langkah-langkah yang diperlukan untuk melakukan kurasi data dan pengelolaan objek digital apa pun. 

Full-Cycle Curation Activities

Perencanaan preservasi dapat dilipat ke dalam pengelolaan dan administrasi objek dokumen dalam penyimpanan digital yang ada.

Pengawasan dan partisipasi komunitas harus terjadi di berbagai tingkat. Setiap kelas objek data dalam koleksi akan memiliki komunitas pengguna utamanya sendiri. Komunitas ini adalah komunitas yang akan mengembangkan standar dan praktik baru, dan perpustakaan harus tetap mengikuti perkembangan ini.

Sequential Actions

Konseptualisasi dan perencanaan untuk mengumpulkan dan menyimpan data untuk beberapa penggunaan. 

Begitu proyek dimulai dan pengumpulan data dimulai. Penting untuk memastikan bahwa data dalam format yang tepat dan bahwa metadata administratif, deskriptif, dan lainnya yang sesuai dikumpulkan pada saat pembuatan.

Penilaian dan pemilihan data memastikan kelayakan data yang disimpan. Perpustakaan harus bekerja sama dengan penghasil data dan komunitas pengguna untuk menetapkan pedoman dan kebijakan untuk membantu pengambilan keputusan ini

Data yang dipilih dapat ditransfer dari lab peneliti ke repositori. Dalam istilah DCC, ini Ingest. Pustakawan dapat membuang data yang tidak dipilih untuk ingest dengan mentransfernya ke repositori yang berbeda dan lebih.

Alasan untuk melakukan semua pekerjaan ini tentu saja untuk mengakses, menggunakan, dan menggunakan kembali data tersebut. 

Transformasi. Seiring waktu mungkin perlu untuk mengubah data ke format yang berbeda, untuk mengatur ulang informasi dalam set yang berbeda, atau untuk menganalisis dan meringkas.

Ini membawa kita kembali ke awal siklus dan ingest data sehingga siklus dapat dimulai lagi.

Siklus kurasi digital dan artificial intelligence 

Artificial  intelligence (AI) adalah sebuah  program komputer  yang  memiliki  algoritma  yang berfungsi  untuk  dapat  mempelajari  data  dan  menggunakannya  untuk  dapat  melakukan  proses berfikir dan bertindak seperti manusia. Machine learning (ML) merupakan cabang dari AI, sistem dapat belajar dari data, mengidentifikasi pola dan membuat keputusan dengan intervensi menusia yang manual. 

Pengembangan ML pada system temu kembali memungkinkan Question Answering yaitu Klasifikasikan pertanyaan; identifikasi jawaban; cocokkan pertanyaan dan jawaban (Ji dan jin, 2011)

AI dan ML bermanfaat untuk membantu mempermudah temu kembali di dalam repository. Sementara, Kurasi digital digunakan untuk evaluasi kemampuan temu kembali yang menggunakan AI dan ML. 

Referensi

Sabharwal, A. (2015). Digital curation lifecycle in practice. INDigital curation in the digital humanities: Preserving and promoting archival and special collections. Chandos Publishing.
Gani Nur Pramudyo
Gani Nur Pramudyo Sedang belajar Ilmu Kearsipan di FIB UI (S2). Untuk keperluan narasumber silakan hubungi saya, saya akan berusaha menyanggupinya.

Posting Komentar untuk "Model Daur Hidup Kurasi Digital"